Oleh Muh. Ghiyats Abid Khalifah
Di zaman sekarang, kita hidup dalam tempo perubahan yang jauh melebihi dari dugaan sebelumnya. Suhu bumi terus meningkat, pola musim menjadi tidak menentu, dan bencana alam muncul tiba-tiba seperti tamu tak diundang. Berita tentang banjir tahunan, kebakaran hutan yang meluas, serta garis pantai yang terkikis tak lagi sekadar istilah “isu lingkungan”; melainkan menjadi realitas yang mengganggu kehidupan sehari-hari.
Yang lebih mengkhawatirkan, perubahan iklim tak bergerak perlahan namun ia bekerja diam‑diam, mengambil sedikit demi sedikit ruang hidup generasi yang akan datang. Anak‑anak dan pemuda yang tumbuh dengan paparan rutin terhadap laporan bencana tahu betul hal ini karena bagi mereka, bencana bukan lagi peristiwa luar biasa, melainkan hanya sepotong berita umum yang sudah menjadi bagian dari keseharian mereka. Hal ini menyebabkan banyak pihak yang memperlakukan persoalan ini seolah angin lalu. Tidak mengherankan jika muncul pertanyaan sederhana namun menyesakkan “Jika keadaan terus seperti ini, bagaimana masa depan kami?” Di sinilah ironi itu muncul. Pendidikan yang selama ini kita anggap sebagai hak dasar dan jalan menuju masa depan yang lebih baik malah kehilangan makna ketika masa depan itu sendiri rapuh. Apa gunanya sekolah jika bumi yang harus diwarisi tidak lagi aman? Dari kegelisahan seperti itulah tumbuh keberanian seorang remaja untuk melakukan sesuatu yang tidak biasa, sebuah langkah kecil yang kemudian mengguncang dunia yaitu gerakan Fridays for
Future.
Gerakan ini merupakan gerakan yang bermula dari aksi sederhana seorang siswa bernama Greta Thunberg di Swedia. Ia duduk sendirian di depan gedung parlemen dengan poster bertuliskan “Skolstrejk för klimatet” (School Strike for Climate), yang didalamnya mengajukan pesan tegas berisi: “Jika negara tidak menjamin masa depan yang aman, mengapa kami harus duduk di kelas seolah semuanya baik‑baik saja?” Setiap Jumat, Greta memboikot sekolah sebagai bentuk protes terhadap kelambanan pemerintah dan pemimpin dunia dalam menghadapi krisis iklim. Aksi kecil itu menyebar bak percikan yang jatuh pada bahan bakar. Dalam waktu singkat, ribuan kota di Eropa, Asia, Australia, hingga Afrika menggelar aksi serupa. Para remaja dari berbagai negara turun ke jalan setiap Jumat, membawa poster dan
menuntut tindakan nyata.
Dari hal tersebut, mulai dari Media global, organisasi internasional, dan banyak pemimpin dunia akhirnya melihat aksi tersebut dan mulai mengakui bahwa suara generasi muda tidak lagi bisa diabaikan. Aksi ini berdampak ke berbagai sektor, sektor bisnis mulai merasakan gelombang tekanan publik. Sektor industri energi fosil menghadapi kecaman kuat, beberapa perusahaan melakukan strategi greenwashing, sementara yang lain mempercepat komitmen iklim mereka. Tekanan moral dari kaum muda menunjukkan bahwa kekuatan politik tidak selalu berasal dari institusi formal namun dapat berasal dari kekuatan lain yaitu moralitas, tekanan publik, dan narasi kolektif yang mampu mengubah dinamika global.
Jika dilihat dari perspektif hubungan internasional, tradisi teori sering menempatkan aktor non-negara sebagai NGO besar, korporasi multinasional, atau jaringan aktor profesional. Teori klasik jarang membayangkan bahwa siswa SMP dan SMA bisa menjadi aktor politik internasional. Namun kenyataannya kini berbeda. Fridays for Future membuktikan bahwa suara emosional, spontan, dan jujur juga bisa menjadi instrumen diplomasi. Gerakan ini merombak anggapan bahwa diplomasi semata-mata proses rasional yang berlangsung di meja bundar antarnegara. Sebaliknya, diplomasi modern kini juga memanfaatkan narasi moral, tekanan publik, dan gelombang opini yang menyebar cepat melalui media sosial. Di era digital, misalnya, satu video pendek di media sosial bisa mempengaruhi opini global lebih cepat daripada dokumen kebijakan setebal empat puluh halaman.
Dari rangkaian peristiwa ini, kita dapat menarik pelajaran penting bahwasanya perubahan global tidak selalu lahir dari ruang formal. Terkadang ia tumbuh dari ketakutan yang tulus, kemarahan terhadap ketidakadilan, dan keberanian seorang remaja untuk duduk di pinggir jalan dengan poster sederhana. Suka atau tidak, Fridays for Future telah menggeser percakapan global. Mereka mengangkat isu iklim dari ranah ilmiah semata menjadi persoalan moral dan politik yang mendesak. Generasi muda memaksa pemimpin dunia menjawab pertanyaan yang selama ini dihindari, menunjukkan bahwa politik global tidak harus selalu rapi dan rasional. Perubahan sering dimulai ketika seseorang memilih untuk tidak diam. Dari gerakan ini kita belajar bahwa masa depan bukanlah sesuatu yang semata ditunggu melainkan sesuatu yang harus diperjuangkan bersama.
REFERENSI
BBC News Indonesia. (2019, Februari 15). Pelajar di Inggris ‘mogok’ sekolah dan berdemo menuntut perubahan iklim. https://www.bbc.com/indonesia/dunia-47249377
Keck, M. E., & Sikkink, K. (1998). Activists beyond borders: Advocacy networks in international politics. Cornell University Press.
Parth, A.-M., Barkemeyer, R., & Figge, F. (2020). “How dare you!”—The influence of Fridays
for Future on the political attitudes of young adults. Frontiers in Political Science, 2, 611139.
Reviyanto, D. (2020, Maret 13). Pelajar SMA di Jakarta mogok sekolah untuk hutan. detiknews. https://news.detik.com/berita/d-4934567/pelajar-sma-di-jakarta-mogok sekolah-untuk hutan
Svensson, A., & Wahlström, M. (2023). Climate change or what? Prognostic framing by
Fridays for Future protesters. Social Movement Studies, 22(1), 1-22.
Sari, N. (2019, Maret 15). Terinspirasi remaja asal Swedia, pelajar di Jakarta gelar aksi protes perubahan iklim. Kompas.com. https://megapolitan.kompas.com/read/2019/03/15/17455371/terinspirasi-remaja-asal swedia-pelajar-di-jakarta-gelar-aksi-protes
Wallis, H., & Loy, L. S. (2021). What drives pro-environmental activism of young people? A survey study on the Fridays For Future movement. Journal of Environmental Psychology, 74, 101581.