{"id":1507,"date":"2021-02-12T03:02:27","date_gmt":"2021-02-11T19:02:27","guid":{"rendered":"http:\/\/himahiunhas.id\/?p=1507"},"modified":"2021-02-12T03:02:27","modified_gmt":"2021-02-11T19:02:27","slug":"peran-identitas-dalam-konflik-arab-saudi-iran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/2021\/02\/12\/peran-identitas-dalam-konflik-arab-saudi-iran\/","title":{"rendered":"Peran Identitas Dalam Konflik Arab Saudi &#8211; Iran"},"content":{"rendered":"<p>Oleh\u00a0Annisa Fauziah Lawi (HI 2019)<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2 style=\"text-align: left;\"><strong>PENGANTAR<\/strong><\/h2>\n<p>Timur Tengah adalah salah satu kawasan regional dengan konflik yang cukup kompleks. Salah satu konflik di kawasan Timur Tengah yang menarik perhatian global dan memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap kawasan ini adalah konflik antara Arab Saudi dan Iran. Seperti persaingan politik pada umumnya, konflik ini didasari oleh perbedaan kepentingan \u00a0dan perbedaan pandangan mengenai legitimasi islam.<\/p>\n<p>Identitas Arab Saudi sebagai pelopor islam sunni Wahhabi dan Iran yang dikenal dengan aliran islam syi\u2019ah\u00a0 menjadi dasar persaingan ideologis yang menambah tingkat kompeksitas konflik antara dua negara ini. Selain itu, identitas \u00a0Arab Saudi \u00a0dan Iran yang dikenal memiliki peran penting di <em>Organization of the Petroleum Exporting Countries<\/em> (OPEC) \u00a0sebagai <em>supplier <\/em>minyak terbesar\u00a0 di dunia dan ambisi Iran dalam meningkatkan sistem keamanan menimbulkan tingkat persaingan antara Arab Saudi dan Iran semakin tinggi. Lantas, adanya identitas yang hampir sama dan kuat antara dua negara power di Timur Tengah tersebut memiliki peran yang sangat penting dalam konflik yang terjadi antara Arab Saudi dan Iran.<\/p>\n<p>Kajian Pustaka ini bersumber dari beberapa kajian penelitian\u00a0 mengenai kawasan Timur Tengah terkhusus Arab Saudi dan Iran\u00a0 serta beberapa kajian yang membahas mengenai identitas terkhusus peran identitas dalam hubungan antar negara. Kajian pustaka ini akan dimulai dengan penjelasan mengenai paradigma konstruktivisme yang akan digunakan sebagai sudut pandang penulis \u00a0dalam menganalisis kasus konflik antara Arab Saudi dan Iran. Lalu, penulis juga akan menjelaskan konsep dan gambaran umum mengenai identitas. Kemudian, dilanjutkan dengan analisis kasus menggunakan paradigma yang sudah dijelaskan pada subtema sebelumnya. Setelah itu, penulis juga akan menjelaskan mengenai konflik Arab Saudi dan Iran secara lebih mendetail.<\/p>\n<p>Kajian pustaka ini akan diakhiri oleh kesimpulan yang akan mengelaborasi poin-poin argumen dari analisis penulis mengenai kasus yang dijelaskan. Fokus utama dalam kajian Pustaka ini adalah menganalisis begaimana peran identitas dalam konflik antara Arab Saudi dan Iran serta apa pengaruh dari identitas dalam konflik dua negara tersebut.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><strong>Konstruktivisme<\/strong><\/h3>\n<p>Pada dasarnya, konstruktivisme memandang dunia sebagai sebuah konstruksi sosial. Dalam konstruktivisme dikenal istilah agensi yang dipahami sebagai kemampuan aktor dalam melakukan sesuatu dan struktur dipahami sebagai sistem internasional yang berlaku, baik itu sistem material atau sistem ideasional. Konstruktivisme meyakini bahwa kedua istilah ini saling mempengaruhi, agen mempengaruhi struktur dan struktur mempengaruhi agen. Dalam hal ini salah satu aspek yang mendorong perubahan yang terjadi antara struktur dan agen adalah pengetahuan bersama antara agen-agen yang terlibat. Selain itu, konstruktivisme juga menyinggung soal anarki. Berbeda dengan anggapan realisme yaitu, anarki menentukan sikap negara.<\/p>\n<p>Konstruktivisme meyakini bahwa anarki adalah apa yang telah dibuat atau diyakini oleh negara.\u00a0 Konstruktivisme juga menganggap bahwa norma sosial sangat penting dalam hubungan internasional, norma sosial dipahami sebagai \u201cstandar perilaku\u201d antar aktor untuk memainkan perannya.\u00a0 Selain asumsi mengenai, struktur, agen, dan norma sosial, konstruktivisme juga berasumsi mengenai identitas dan kepentingan. Identitas menurut konstruktivisme diyakini sebagai reperesentasi pehaman aktor mengenai \u201csiapa mereka\u2019 dan bagaimana peran dan minat mereka. Oleh karena itu, negara dapat memiliki banyak identitas tergantung bagaimana negara lain merepresentasikannya. Konstruktivisme meyakini bahwa, identitas\u00a0 mempengaruhi kepentingan dan tindakan.<\/p>\n<p>Dalam kajian pustaka ini, penulis menggunakan konsep identitas dan kepentingan dalam menganalisis kasus. \u00a0Seperti yang dijelaskan sebelumnya, konstruktivisme percaya bahwa\u00a0 identitas adalah kepentingan dan tindakan. Dalam hal ini konstruktivisme meyakini bahwa kepentingan dan tindakan yang dilakukan oleh negara dipengaruhi oleh identitas negara tersebut. Untuk memahami lebih jelas mengenai identitas, \u00a0Alexander Wendt membagi identitas menjadi empat jenis ; (1) identitas personal, (2) identitas tipe, (3) identitas peran, dan (4) identitas kolektif.<\/p>\n<p>Identitas personal adalah identitas dasar yang terjadi secara alamiah (bentuk fisik, lambang negara, nasionalisme,). Lain halnya dengan identitas personal, identitas tipe adalah identitas yang dipengaruhi oleh pelabelan atau karakteristik tertentu misalnya mengenai ideologi atau agama. Identitas peran adalah identitas yang timbul dari subjektivitas negara lain, identitas peran menempatkan negara untuk memegang posisi atau peran tertentu dalam struktur internasional. Identitas peran dibentuk berdasarkan interaksi antara negara dengan negara lain. Jenis identitas terakhir adalah identitas kolektif atau sering disebut dengan identitas kelompok, identitas ini terbentuk dari sekumpulan aktor yang berkumpul dan membentuk sebuah identitas. Terbentuknya identitas dari sekelompok aktor terjadi karena rasa solidaritas yang tinggi dan ketergantungan. Alasan penulis memilih paradigma konstruktivisme dengan konsep identitas dan kepentingan dalam menganaisis kasus ini karena paradigma ini sangat relevan dengan fokus utama penulis dalam menjelaskan bagaimana peran identitas dalam konflik Arab Saudi dan Iran. Selain itu, konsep konstruktivisme mengenai identitas dan kepentingan membahas secara rinci mengenai bagaimana peran identitas negara, sehingga hal ini memudahkan penulis dalam menganalisis kasus.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><strong>Analisis<\/strong><\/h3>\n<p>Revolusi Islam di Iran pada tahun 1979 menimbulkan munculnya gelombang baru dalam perkembangan sekte islam di kawasan Timur Tengah. Naiknya Ayatollah Ruhollah Khomeini sebagai pemimpin Iran memberikan kesempatan untuk menjalankan visinya yaitu, pembangunan kekuatan regional melalui islam Syiah. Adanya keyakinan Iran untuk bangkit melalui islam syiah mendorong munculnya ambisi Iran untuk memperluas pengaruh islam Syiah di Timur Tengah. Hal ini berbanding terbalik dengan keyakinan Arab Saudi sebagai penganut Islam Sunni\u00a0 menentang keyakinan dari sekte Islam lainnya termasuk Islam Shiah. Adanya peran Arab Saudi sebagai tempat lahirnya Islam menimbulkan klaim Arab Saudi sebagai pemimpin islam dunia. Perbedaan pandangan mengenai legitimasi Islam tersebut menjadi akar dari konflik yang terjadi antara keduanya.<\/p>\n<p>Konflik kembali memanas pada tahun 1980 saat terjadi perang antara Iran dan Iraq. Arab Saudi secara diam-diam mendukung Iraq dan mengirimkan bantuan kepada Iraq saat perang berlangsung. Tindakan Arab Saudi memancing balasan dari Iran yang direalisasikan dengan meneriakkan slogan politik Iran di wilayah Mekkah dan Madinah kemudian menuduh otoritas Arab Saudi melakukan diskriminasi kepada Jemaah Iran yang hendak melakukan ibadah di Mekkah dan Madinah.<\/p>\n<p>Tidak berhenti sampai di situ, pada tahun 1987 saat haji tahunan dilaksanakan di kota Mekkah,\u00a0 terjadi bentrok antara jamaah syiah dan aparat kepolisian Saudi Arabia yang setidaknya menewaskan 400 orang termasuk 200 warga Iran menjadi korban. Menindaklanjuti hal tersebut, demonstran Iran kemudian menyerang kedutaan Arab Saudi di Kuwait dan Teheran. Akibat dari pemberontakan sebelumnya , Arab Saudi mengeluarkan kebijakan mengenai pembatasan visa jamaah Iran dalam jangka waktu setahun sejak tahun 1988 hingga 1989. Akan tetapi hubungan antara Iran dan Arab Saudi sempat mengalami perbaikan pada tahun 1990-1991 dimana Arab Saudi memberikan bantuan terhadap korban gempa di Iran yang menewaskan 40.000 masyarakat Iran.<\/p>\n<p>Tidak lama setelah mengalami perbaikan, ketegangan antara Arab Saudi dan Iran kembali berlanjut pasca Amerika Serikat menginvasi Iraq dan menggulingkan Saddam Husain pada tahun 2003. Iran memanfaatkan kesempatan ini untuk menyebarkan pengaruhnya di wilayah Iraq.\u00a0 Kejadian ini menimbulkan kekhawatiran Arab Saudi sehingga mengambil tindakan untuk meningkatkan pengaruhnya\u00a0 di beberapa negara di Timur Tengah. Adanya persaingan dalam meningkatkan pengaruh antara Arab Saudi dan Iran mengakibatkan terjadinya\u00a0 <em>proxy war<\/em> antara kedua negara tersebut di beberapa negara di Timur Tengah, salah satunya adalah Yaman. \u00a0Hingga saat ini, \u00a0baik Iran dan Arab Saudi masih berusaha untuk memperluas pengaruhnya bahkan melalui <em>Organization of the Petroleum Exporting Countries<\/em> (OPEC) \u00a0keduanya masih bersaing sebagai supplier terbesar minyak dunia<\/p>\n<p>Konstruktivisme melalui konsep identitas dan kepentingan meyakini bahwa identitas adalah kepentingan dan tindakan. Arab Saudi hadir sebagai tempat lahir islam dan dikenal sebagai \u201cpemimpin sunni dunia\u201d identitas yang diperoleh Arab Saudi ini mempengaruhi kepentingan Arab Saudi untuk menyebarkan pengaruh islam sunni di dunia. Berkembangnya aliran muslim syiah di Iran dan ambisinya untuk menyebarkan pengaruh syiah di dunia membuat negara-negara lain merepresentasikan Iran sebagai \u2018pemimpin syiah dunia\u201d.<\/p>\n<p>Identitas ini mempengaruhi kepentingan dan tindakan Iran melalui bentuk perlawanannya kepada Arab Saudi yang berusaha menahan persebaran pengaruh islam syiah oleh Iran. Adanya identitas yang berlawanan mempengaruhi kepentingan yang bertolak belakang antara kedua negara ini. Hal ini menimbulkan ketegangan antara Arab Saudi dan Iran. Selain itu, kosntruktivisme juga\u00a0 meyakini bahwa identitas negara dapat terbentuk dari persepsi negara lain. Dengan kata lain , bagaimana negara lain melabeli sebuah negara. Dalam kasus konflik antara Arab Saudi dan Iran, Arab Saudi melabeli Iran sebagai \u201cpelopor islam syiah\u201d akibat dari\u00a0 pelabelan identitas tersebut, Arab Saudi\u00a0 mempersepsikan Iran sebagai \u201cmusuh\u201d atau \u201cancaman\u201d yang berpotensi melengserkan eksistensi islam sunni bahkan Arab Saudi sebagai kekatan terbesar di Timur Tengah. Sama halnya dengan Iran yang mempersepsikan Arab Saudi sebagai \u201cancaman\u201d atau \u201cpenghalang\u201d dalam mencapai kepentingannya.<\/p>\n<p>Selain mengenai legitimasi islam, keduanya juga memiliki identitas sebagai s<em>upplier <\/em>minyak terbesar di dunia dan memegang peran penting dalam <em>Organization of the Petroleum Exporting Countries<\/em> (OPEC). Identitas ini kembali menimbulkan persaingan antara Arab Saudi dan Iran sebagai pengekspor minyak terbesar dan\u00a0 bersaing dalam memperluas pengaruhnya di organisasi tersebut. Tipologi identitas Alexander Wend yang sesuai dengan kasus konflik Arab Saudi dan Iran ini adalah, jenis kedua yaitu identitas tipe dan identitas peran. Baik Arab Saudi dan Iran memiliki identitas\u00a0 sebagai negara islam atau negara pelopor islam\u2014meskipun keduanya memiliki pandangan yang berbeda\u00a0 mengenai legitimasinya. Kemudian mengenai identitas peran, keduanya memiliki identitas sebagai <em>supplier<\/em> minyak terbesr di dunia. Karenanya,baik Arab Saudi dan Iran memiliki peran untuk mejadi pengekspor minyak di dunia.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><strong>Kesimpulan<\/strong><\/h3>\n<p>Konflik yang terjadi antara Arab Saudi dan Iran diawali oleh perdebatan mengenai legitimasi islam dan ambisi keduanya untuk memperluas pengaruhnya. Arab Saudi yang memiliki identitas sebagai \u201cpemimpin islam sunni\u201d dan sebagai tempat lahirnya islam memiliki kepentingan untuk memperluas pengaruhnya di wilayah Timur Tengah. Hal tersebut bertolak belakang dengan kepentingan Iran dalam menyebarkan pengaruh islam syiah dan identitasnya sebagai \u201cpemimpin islam syiah\u201d. Karena adanya identitas yang bertolak belakang menimbulkan ketegangan antara kedua negara. Melalui konstruktivisme, Arab Saudi memiliki persepsi bahwa Iran adalah \u201cmusuh\u201d atau \u201cancaman\u201d yang berpotensi menurunkan eksistensi\u00a0 islam sunni bahkan menggantin peran Arab Saudi sebagai kekuatan terbesar Timur Tengah. Sama halnya dengan Iran yang memiliki persepsi bahwa Arab Saudi adalah penghalang dalam melaksanakan kepentingannya untuk memperluas pengaruhnya di Timur Tengah. Lantas, identitas memiliki pengaruh besar dalam konflik yang terjadi antara Arab Saudi dan Iran, sebagaimana dijelaskan bahwa keduanya hampir memiliki identitas yang bertolak belakang.<\/p>\n<h2><strong>Daftar Pustaka<\/strong><\/h2>\n<p>Cardinalli, T. G. (n.d.). The Sunni-Shia Political Struggle Between Iran and Saudi Arabia. <em>Strategic Informer: Student Publication of the Strategic Intelligence Society Vol. 1 Iss. 2 (6)<\/em>, 27-28.<\/p>\n<p>Rich, B. L. (2015). <em>The State as an Identity Racketeer : The case of Saudi Arabia.<\/em> Melbourne: Monash University.<\/p>\n<p>Nevo, J. (1998). Relogion and National Identitiy In Saudi Arabia. <em>Middle Eastern Studies Vol. 34 No. 3<\/em>, 34-53.<\/p>\n<p>Bendetta Berti, Y. G. (2004). Saudi Arabia Foreign Policy on Iran and the Proxy War in Syria : Towards a New Chapter? <em>Israel Journal of Foreign Affairs Vol.4 (3)<\/em>, 25-33.<\/p>\n<p>Theys, S. (2018, February 23). <em>Introducing Constructivism in International Relations Theory.<\/em> Retrieved from E-International Relations: https:\/\/www.e-ir.info\/2018\/02\/23\/introducing-constructivism-in-international-relations-theory\/<\/p>\n<p>Mengshu, Z. (2020). <em>A Brief Overview of Alexander Wendt\u2019s Constructivism.<\/em> Retrieved from E-International Relations: https:\/\/www.e-ir.info\/2020\/05\/19\/a-brief-overview-of-alexander-wendts-constructivism\/<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh\u00a0Annisa Fauziah Lawi (HI 2019) &nbsp; PENGANTAR Timur Tengah adalah salah satu kawasan regional dengan konflik yang cukup kompleks. Salah satu konflik di kawasan Timur<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/2021\/02\/12\/peran-identitas-dalam-konflik-arab-saudi-iran\/\" class=\"more-link\">Read More<span class=\"screen-reader-text\">Peran Identitas Dalam Konflik Arab Saudi &#8211; Iran<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[20],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1507"}],"collection":[{"href":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1507"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1507\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1510,"href":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1507\/revisions\/1510"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1507"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1507"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1507"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}