{"id":1842,"date":"2024-02-28T14:33:26","date_gmt":"2024-02-28T06:33:26","guid":{"rendered":"https:\/\/himahiunhas.id\/?p=1842"},"modified":"2024-02-28T14:33:27","modified_gmt":"2024-02-28T06:33:27","slug":"bhutan-tantangan-menghadapi-raksasa-industri-asia-selatan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/2024\/02\/28\/bhutan-tantangan-menghadapi-raksasa-industri-asia-selatan\/","title":{"rendered":"<strong>Bhutan, Tantangan Menghadapi Raksasa Industri Asia Selatan<\/strong>"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Bhutan, Tantangan Menghadapi Raksasa Industri Asia Selatan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><em>Siti Nuna Raisyah<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Latar Belakang<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Bhutan, salah satu negara kecil yang terletak di wilayah Asia Selatan dengan komitmen tegas terkait penanganan perubahan iklim dan mempertahankan kondisi netral karbon dalam negari sejak tahun 2011. Berbeda dengan negara lain, Kerajaan Bhutan menerapkan <em>Gross National Happiness<\/em> (GNH) sebagai indikator khusus dalam negara yang mencakup pentingnya peran pemerintah, konservasi lingkungan, pengembangan ekonomi dan pelestarian budaya. Kendati demikian, Bhutan dengan mekanisme pelestarian lingkungannya mengalami ancaman ketidak adilan iklim karena berada di antara dua raksasa industri yaitu China dan India. Ancaman ini kemudian menjadi penting karena menyangkut kelangsungan eksistensi suatu negara kecil dengan komitmen melampaui negara-negara \u2018raksasa\u2019 hipokrit dengan kampanye penanganan iklim yang hanya terus digembor-gemborkan.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Bhutan dan Lingkungannya<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Komitmen Bhutan terhadap pencegahan perubahan iklim menjadi salah satu yang paling komperehensif dibandingkan dengan negara-negara lainnya. Bhutan secara wilayah terletak pada kawasan pegunungan Himalaya dengan kurang lebih 70% areanya ditutupi oleh hutan yang kemudian dimanfaatkan guna menetralisasi efek rumah kaca guna menjaga komitmen dalam netralitas karbon dan hal ini terus berlangsung seiring dengan pertumbuhan kawasan hutan Bhutan. Tetapi kemudian, Bhutan sebagai salah satu dari sedikit negara yang dapat mencapai netralitas karbon terus mengalami ancaman utamanya oleh China dikarenakan letak wilayah yang berdekatan. Bhutan dan China telah terlibat berbagai konflik terkait wilayah, misalnya pada 2017 dengan pembangunan jalan yang dilakukan China secara sepihak di wilayah perbatasan Doklam. Setelah menyetujui kesepakatan perdamaian pada wilayah perbatasan di tahun 1998, Bhutan sebagai suatu negara kecil tetap tidak dapat menghindari ancaman dari kekuatan besar China terkait perebutan wilayah.<\/p>\n\n\n\n<p>Yang terbaru adalah kegiatan pencaplokan yang terus dilakukan China pada wilayah utara pegunungan Himalaya di Bhutan dengan Pembangunan berbagai infrastruktur dan pusat administrasi secara sepihak. Tidak mengherankan karena tentu untuk menyerang negara kecil dengan populasi masyarakat yang bahkan tidak mencapai satu juta jiwa bukan merupakan hal yang sulit bagi China dalam upayanya terus melakukan perluasan wilayah dan eksploitasi terhadap negara kecil dan mengamankan dominasinya melawan India. Kegiatan ekspansi ini utamanya terus dilakukan pada wilayah Beyul dan Lembah Menchuma, hal ini mengindikasikan bagaimana China bahkan tidak menjaga komitmennya dalam perjanjian yang disepakati pada tahun 1998.<\/p>\n\n\n\n<p>Lantas, apa korelasi terkait pencaplokan wilayah yang dilakukan China dengan upaya yang terus ditegaskan oleh Bhutan dalam netralitas karbon? Seperti telah dipaparkan sebelumnya bahwa sekitar 70% wilayah Bhutan tertutupi oleh hutan yang merupakan amunisi utama guna menjaga netralitas karbon pada kawasan. Apabila negara dengan kekuatan sebesar China terus melakukan pengambil-alihan wilayah secara sepihak, hal ini kemudian akan memengaruhi kualitas capaian netralitas karbon yang dicanangkan oleh Bhutan dikarenakan keterbatasan wilayah hutan. Bayangkan dari sekian banyaknya negara yang mampu memperlihatkan upaya progresif dalam perlawanan terhadap perubahan iklim, Bhutan harus mengantisipasi ancaman terbesar terhadap ketersediaan wilayah hutan. Selain dari tindakan ekspansi wilayah secara semena-mena, China sebagai negara industri memberikan dampak yang signifikan terhadap perubahan iklim dikarenakan merupakan salah satu penghasil emisi karbon terbesar. Hal ini tentu sangat tidak adil bagi Bhutan yang sebagian besar masyarakatnya mengandalkan pertanian untuk menunjang kehidupan, apabila perubahan iklim secara global terus dirasakan secara signifikan pada wilayah Asia Selatan salah satunya disebabkan oleh proses industrialisasi China.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Disparitas Lingkungan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Ironis, melihat bagaimana China terus mengalami perkembangan perekonomian negara dengan mengandalkan industri sedangkan Bhutan yang secara signifikan mengupayakan netralisasi karbon dengan meminimalisir bidang industri dan melakukan pemanfaatan wilayah hutan, tidak mendapatkan keuntungan signifikan dalam perkembangan negara, harus merasakan dampak yang sama dari perubahan iklim dan bahkan masih harus mendapatkan ancaman perebutan wilayah. Melihat hal ini, tentu topik mengenai Keadilan Iklim atau Climate Justice menjadi hal yang perlu untuk dikaji lebih lanjut. Bhutan bukanlah satu-satunya negara yang mengalami ancaman dari ketidak-adilan iklim pada status quo. Tentu ancaman akan terus menghantui negara-negara penghasil karbon yang minim apabila melihat ketergantungan negara-negara adidaya pada proses industrialisasi. Industrialisasi yang berbanding lurus dengan perkembangan perekonomian negara menjadi fakor utama dan hal ini menjadi penting untuk dibahas karena menyangkut kehidupan masyarakat dalam skala global. Apabila ketidak-adilan iklim terus terjadi, maka tidak hanya negara-negara kecil, tetapi pada tingkatan masyarakat kecil pun akan terus tercekik dampak perubahan iklim secara bersama tanpa adanya solusi untuk keberlangsungan hidup secara kolektif.<\/p>\n\n\n\n<h1><strong>References<\/strong><\/h1>\n\n\n\n<p>&nbsp;Vohra, Anchal. 2024. China Is Quietly Expanding Its Land Grabs in the Himalayas. <a href=\"https:\/\/foreignpolicy.com\/2024\/02\/01\/china-is-quietly-expanding-its-land-grabs-in-the-himalayas\/\">https:\/\/foreignpolicy.com\/2024\/02\/01\/china-is-quietly-expanding-its-land-grabs-in-the-himalayas\/<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Yangka, dkk. 2023. Carbon neutral Bhutan: sustaining carbon neutral status under growth pressures. <a href=\"https:\/\/sustainableearthreviews.biomedcentral.com\/articles\/10.1186\/s42055-023-00053-8#Tab1\">https:\/\/sustainableearthreviews.biomedcentral.com\/articles\/10.1186\/s42055-023-00053-8#Tab1<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Inter-parliamentary Union. 2023. How Bhutan is addressing climate change. <a href=\"https:\/\/www.ipu.org\/news\/case-studies\/2023-05\/how-bhutan-addressing-climate-change\">https:\/\/www.ipu.org\/news\/case-studies\/2023-05\/how-bhutan-addressing-climate-change<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bhutan, Tantangan Menghadapi Raksasa Industri Asia Selatan Siti Nuna Raisyah Latar Belakang Bhutan, salah satu negara kecil yang terletak di wilayah Asia Selatan dengan komitmen<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/2024\/02\/28\/bhutan-tantangan-menghadapi-raksasa-industri-asia-selatan\/\" class=\"more-link\">Read More<span class=\"screen-reader-text\"><strong>Bhutan, Tantangan Menghadapi Raksasa Industri Asia Selatan<\/strong><\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[1],"tags":[53],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1842"}],"collection":[{"href":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1842"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1842\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1846,"href":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1842\/revisions\/1846"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1842"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1842"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1842"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}