{"id":1888,"date":"2025-01-15T00:17:15","date_gmt":"2025-01-14T16:17:15","guid":{"rendered":"https:\/\/himahiunhas.id\/?p=1888"},"modified":"2025-01-15T00:17:16","modified_gmt":"2025-01-14T16:17:16","slug":"5-how-the-realist-think-realisme-sebagai-pisau-bedah-ilmu-hi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/2025\/01\/15\/5-how-the-realist-think-realisme-sebagai-pisau-bedah-ilmu-hi\/","title":{"rendered":"#5 How the Realist Think? : Realisme sebagai Pisau Bedah ilmu HI"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Asumsi Dasar para Realis&nbsp;<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color\">Diskusi Dasar Paradigma Realisme dilaksanakan pada 23 November 2024 di Pelataran Baruga kampus Universitas Hasanuddin dan diisi oleh beberapa pemateri dengan bentuk diskusi kelompok interaktif yang menyasar mahasiswa angkatan 2024 sebagai sasaran utama dengan tujuan untuk memperkenalkan salah satu Grand Paradigma dalam studi Hubungan Internasional yaitu Realisme.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color\">Paradigma ini lahir dimulai dengan timbulnya pandangan pesimis oleh beberapa ilmuwan yang berasumsi mengenai sifat egois yang dimiliki oleh manusia di mana ia akan selalu mementingkan kepentingan pribadinya di atas kepentingan yang lain. Niccolo Machiavelli berpendapat bahwa upaya mempertahankan diri, keinginan untuk memperoleh kekuasaan dan upaya untuk selalu memenuhi kepentingan pribadi merupakan dorongan utama yang menggerakkan individu.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color\">Manusia pun dipandang akan selalu skeptis atas keselamatannya jika dihadapkan dengan individu yang juga memiliki keinginan yang sama sehingga berpotensi menyulut terjadinya persaingan untuk memperoleh posisi sebagai penguasa demi untuk dapat selalu memenuhi kepentingannya dalam berbagai situasi. Asumsi dan skeptisme dari sifat manusia inilah yang kemudian menjadi dasar pendekatan Paradigma Realisme yang berkembang pada masa Perang Dunia I dan Perang Dunia II. Asumsi ini pun kemudian diadopsi dan dikaitkan dengan perilaku sebuah negara yang akan selalu mengandalkan perang dan konflik dalam proses penyelesaian masalah.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color\"><strong>HI dalam anarkisme internasional&nbsp;<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color\">Hal ini juga didorong oleh asumsi dasar yang memandang sistem internasional itu bersifat anarkis, anarkis di sini berarti tidak ada otoritas supranasional yang dapat mengatur negara-negara. Sehingga negara-negara tersebut kemudian akan bertindak untuk dapat memenuhi kepentingannya masing-masing tanpa mementingkan hal lain untuk dapat bertahan hidup dalam dinamika global yang tidak memiliki aturan. Salah satu tokoh yang dianggap sebagai bapak pelopor aliran Realisme yang berkembang pada abad ke-20, adalah Hans Morgenthau, yang berpandangan bahwa basis studi Hubungan Internasional adalah politik kekuasaan dan negara merupakan aktor utama dalam fenomena HI yang akan selalu mengutamakan kepentingan nasionalnya sebagai dasar dalam pengambilan keputusan. Politik internasional digambarkan sebagai suatu arena persaingan di mana konflik dan perang antar negara merupakan siklus yang akan berulang secara terus menerus karena adanya persaingan dalam pemenuhan kepentingan masing-masing negara.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color\"><strong>Konsep perimbangan kekuatan untuk mencegah konflik&nbsp;<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color\">Realisme sebagai suatu paradigma dasar dalam Ilmu Hubungan Internasional kemudian memiliki turunan konsep dan teori, salah satunya adalah konsep <em>Balance of Power. Balance of Power <\/em>atau perimbangan kekuasaan adalah konsep kunci dalam paradigma realisme di mana negara akan berupaya menjaga keseimbangan kekuatan mereka demi keamanan dan kepentingan nasionalnya. <em>Balance of Power <\/em>sendiri merupakan situasi di mana kekuatan militer, ekonomi maupun politik antar negara-negara relatif seimbang sehingga tidak akan ada pihak manapun yang dapat mendominasi atau memaksakan kehendaknya pada pihak lain. Dan keseimbangan kekuasaan ini dapat dicapai dengan meningkatkan kekuatannya sendiri atau dengan membentuk aliansi dengan negara lain untuk dapat melawan dominasi kekuasaan dari negara maupun aliansi lain.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color\">Salah satu contoh penerapannya adalah seperti koalisi Eropa melawan Napoleon Bonaparte pada abad ke-19 di mana negara-negara yang ada di Eropa membentuk aliansi militer untuk dapat melawan ambisi kekuasaan Napoleon dan ekspansi Kekaisaran Perancis pada saat itu. Konsep ini juga mendorong<em> deterrence<\/em> di mana negara yang kuat akan berpikir dua kali sebelum melakukan penyerangan pada negara lain karena mempertimbangkan resiko jika melawan kekuatan yang seimbang bahkan lebih besar.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color\">Bagaimana kawan-kawan setelah membaca review ini? Menarik bukan? Yuk baca review mengenai paradigma lainnya  yang tidak kalah keren!<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color\"><strong>Referensi <\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color\">Hadiwinata, B. S. (2017). Studi dan Teori Hubungan Internasional: Arus Utama, Alternatif, dan Reflektivis. Yayasan Pustaka.<br>Triwahyuni, D. (2013). Ilmu Hubungan Internasional: Tinjauan Epistemologi, Metodologi dan Ontologi. Diambil kembali dari repository.unikom.ac.id:https:\/\/repository.unikom.ac.id\/44869\/1\/MPHI-1.pdf<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Asumsi Dasar para Realis&nbsp; Diskusi Dasar Paradigma Realisme dilaksanakan pada 23 November 2024 di Pelataran Baruga kampus Universitas Hasanuddin dan diisi oleh beberapa pemateri dengan<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/2025\/01\/15\/5-how-the-realist-think-realisme-sebagai-pisau-bedah-ilmu-hi\/\" class=\"more-link\">Read More<span class=\"screen-reader-text\">#5 How the Realist Think? : Realisme sebagai Pisau Bedah ilmu HI<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[1],"tags":[47,48],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1888"}],"collection":[{"href":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1888"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1888\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1889,"href":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1888\/revisions\/1889"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1888"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1888"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1888"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}