{"id":1947,"date":"2026-06-01T19:29:45","date_gmt":"2026-06-01T11:29:45","guid":{"rendered":"https:\/\/himahiunhas.id\/?p=1947"},"modified":"2026-06-01T19:29:45","modified_gmt":"2026-06-01T11:29:45","slug":"militerisme-dan-perempuan-relevansi-buku-perawan-remaja-dalam-cengkeraman-militer-hingga-hari-ini","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/2026\/06\/01\/militerisme-dan-perempuan-relevansi-buku-perawan-remaja-dalam-cengkeraman-militer-hingga-hari-ini\/","title":{"rendered":"<strong>Militerisme\u00a0dan Perempuan:\u00a0Relevansi\u00a0Buku\u00a0<em>Perawan\u00a0Remaja\u00a0dalam\u00a0Cengkeraman\u00a0Militer<\/em>\u00a0hingga\u00a0Hari Ini<\/strong>\u00a0"},"content":{"rendered":"\n<p>Oleh Andi syahrun ramdahani hasyim<\/p>\n\n\n\n<p>Ada jenis kekerasan yang tidak meledak. Ia merayap, meresap ke dalam tubuh, dan mengendap dalam diam. Itulah kekerasan yang Pramoedya Ananta Toer abadikan dalam Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer, sebuah kesaksian yang lahir dari catatan-catatan rahasia yang ia tulis selama masa pembuangannya di Pulau Buru. Buku ini bukan sekadar dokumentasi sejarah tentang romusha dan perempuan-perempuan Jawa yang dijebak tipu daya kolonial Jepang. Ia adalah argumen moral yang terus hidup dan menggema, bahkan di tahun-tahun ini ketika banyak pihak memilih lupa.<\/p>\n\n\n\n<p>Ada jenis kekerasan yang tidak meledak. Ia merayap, meresap ke dalam tubuh, dan mengendap dalam diam. Itulah kekerasan yang Pramoedya Ananta Toer abadikan dalam Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer, sebuah kesaksian yang lahir dari catatan-catatan rahasia yang ia tulis selama masa pembuangannya di Pulau Buru. Buku ini bukan sekadar dokumentasi sejarah tentang romusha dan perempuan-perempuan Jawa yang dijebak tipu daya kolonial Jepang. Ia adalah argumen moral yang terus hidup dan menggema, bahkan di tahun-tahun ini ketika banyak pihak memilih lupa.<\/p>\n\n\n\n<p>A.&nbsp;Tentang&nbsp;Buku:&nbsp;Kesaksian&nbsp;yang&nbsp;Dilarang&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer ditulis berdasarkan wawancara langsung Pramoedya dengan para perempuan yang selamat dari sistem jugun ianfu, perempuan yang dipaksa, ditipu, atau diculik oleh tentara pendudukan Jepang untuk dijadikan perempuan penghibur bagi pasukan militer. Dalam konteks pendudukan Jepang di Indonesia antara tahun 1942 hingga 1945, ribuan perempuan, terutama dari Jawa, mengalami nasib ini. Mereka direkrut dengan janji pekerjaan layak atau pendidikan, dan berakhir di barak-barak militer yang tersebar dari Kalimantan hingga Papua, dari Filipina hingga Korea.<\/p>\n\n\n\n<p>Yang membuat buku ini luar biasa bukan hanya kontennya, melainkan konteks kelahirannya. Pramoedya menulis dalam keterbatasan total, tanpa kertas yang cukup, tanpa kebebasan bergerak, di bawah pengawasan rezim Orde Baru yang justru memenjarakan dirinya karena tulisan-tulisannya. Manuskrip ini disembunyikan, dipinjamkan secara diam-diam, dan baru dapat diterbitkan secara resmi puluhan tahun kemudian. Buku ini sendiri adalah produk perlawanan terhadap militerisme, bukan hanya tentang militerisme.<\/p>\n\n\n\n<p>B. Tubuh Perempuan&nbsp;sebagai&nbsp;Medan Perang:&nbsp;Analisis&nbsp;Struktural&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam kajian hubungan internasional kontemporer, khususnya dalam perspektif feminist security studies yang dikembangkan oleh Cynthia Enloe dan J. Ann Tickner, ada satu tesis yang relevan bahwa tubuh perempuan secara historis telah dijadikan medan perang oleh institusi militer. Apa yang Pramoedya dokumentasikan bukan anomali sejarah. Ia adalah manifestasi sistematis dari bagaimana militerisme membutuhkan, mengeksploitasi, dan menghancurkan perempuan sebagai bagian dari operasinya.<\/p>\n\n\n\n<p>Jugun ianfu bukan sekadar praktik masa perang yang tidak manusiawi. Ia adalah kebijakan negara. Tentara Kekaisaran Jepang merancang sistem ini secara institusional, dengan birokrasi, logistik, dan rantai komando yang jelas. Yoshimi (2000) dalam kajian sejarahnya membuktikan bahwa rekrutmen perempuan untuk sistem ini melibatkan instruksi langsung dari kementerian militer Jepang. Apa yang menimpa perempuan-perempuan dalam buku Pramoedya bukan kecelakaan, melainkan produk dari sistem yang terencana.<\/p>\n\n\n\n<p>Lebih jauh, buku ini menunjukkan bagaimana kelas dan etnisitas berpotongan dengan gender dalam konteks kolonialisme militer. Perempuan-perempuan yang menjadi korban mayoritas berasal dari kelas bawah, tidak berpendidikan, dan tinggal di daerah pedesaan. Mereka adalah yang paling rentan terhadap propaganda dan paksaan. Pendekatan interseksional dalam studi gender menegaskan bahwa kerentanan ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari sistem dominasi yang berlapis. Militerisme memilih korbannya dengan cermat berdasarkan kerentanan struktural yang sudah tercipta lebih dahulu.<\/p>\n\n\n\n<p>C. Diam Negara: Dari&nbsp;Jepang&nbsp;ke&nbsp;Indonesia&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Salah satu dimensi paling menyakitkan dalam buku Pramoedya adalah bukan hanya kekerasan yang terjadi, melainkan keheningan yang mengikutinya. Jepang sebagai negara selama puluhan tahun menolak mengakui sistem jugun ianfu secara resmi. Ketika tekanan internasional akhirnya memaksa pernyataan resmi melalui Pernyataan Kono pada 1993, banyak kalangan menilai permintaan maaf itu tidak cukup. Tidak ada kompensasi yang memadai, tidak ada pengakuan penuh dalam kurikulum sejarah Jepang, dan tidak ada keadilan yang nyata bagi para korban yang masih hidup.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun Indonesia pun tidak bisa lepas dari kritik yang sama. Pemerintah Indonesia tidak pernah secara resmi menuntut Jepang atas nasib warga negaranya. Pada era Orde Baru, pembicaraan tentang jugun ianfu justru diredam karena dianggap mengusik hubungan diplomatik dan ekonomi dengan Jepang. Pramoedya yang menulis buku ini di masa Orde Baru secara tidak langsung juga menantang kompromi-kompromi politik pemerintah bangsanya sendiri, sehingga wajar jika buku ini sempat sulit beredar.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam kerangka hubungan internasional, fenomena ini dapat dibaca melalui konsep kekerasan struktural yang dikembangkan Johan Galtung, yakni kekerasan yang tidak memerlukan pelaku langsung yang tampak karena ia tertanam dalam struktur politik dan ekonomi internasional. Diam negara atas kejahatan masa lalu bukan ketiadaan tindakan. Ia adalah bentuk kekerasan struktural yang berkelanjutan dan aktif mempertahankan ketidakadilan.<\/p>\n\n\n\n<p>D. Relevansi&nbsp;Kontemporer:&nbsp;Militerisme&nbsp;Tidak Pernah Benar-Benar Pergi&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Seseorang mungkin bertanya mengapa kita harus membaca buku tentang peristiwa delapan puluh tahun lalu. Jawabannya sederhana: karena polanya belum berubah. Konflik bersenjata di berbagai penjuru dunia hari ini, dari Sudan hingga Myanmar dan dari Ukraina hingga Palestina, terus menunjukkan bahwa kekerasan seksual terhadap perempuan digunakan sebagai senjata perang secara sistematis. Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa secara konsisten mendokumentasikan penggunaan kekerasan seksual sebagai taktik militer dalam laporan tahunan Sekretaris Jenderal.<\/p>\n\n\n\n<p>Resolusi Dewan Keamanan PBB 1325 tentang Perempuan, Perdamaian, dan Keamanan lahir justru karena komunitas internasional akhirnya mengakui bahwa perempuan secara tidak proporsional menanggung beban perang sementara hampir selalu absen dari meja perundingan damai. Lebih dari dua dekade sejak resolusi itu disahkan, implementasinya masih jauh dari memadai di sebagian besar negara.<\/p>\n\n\n\n<p>Di tingkat domestik, Indonesia sendiri belum sepenuhnya menyelesaikan warisan hubungan antara militerisme dan tubuh perempuan. Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual baru disahkan pada tahun 2022 setelah perjuangan panjang selama lebih dari delapan tahun di parlemen. Minimnya representasi perempuan dalam lembaga-lembaga pertahanan dan keamanan juga masih menjadi persoalan struktural yang belum tuntas diselesaikan.<\/p>\n\n\n\n<p>E. Pramoedya&nbsp;sebagai&nbsp;Metode:&nbsp;Belajar&nbsp;Membaca&nbsp;Kekuasaan&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Bagi kami di Advokastra, membaca Pramoedya bukan hanya kegiatan sastra. Ini adalah latihan metodologis. Pramoedya mengajarkan bahwa sumber sejarah yang paling sahih bukan selalu dokumen resmi, protokol diplomatik, atau arsip negara. Justru seringkali kebenaran tersembunyi di dalam kesaksian orang-orang yang paling tidak memiliki kuasa untuk didengar. Pendekatan ini sejalan dengan tradisi sejarah lisan sebagai metodologi ilmu sosial kritis yang diuraikan Portelli (1991).<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam tradisi hubungan internasional, pendekatan Pramoedya sejalan dengan apa yang disebut subaltern studies, sebuah gerakan akademik yang menantang narasi dominan dengan mengangkat suara-suara yang terpinggirkan. Pramoedya sudah melakukan hal ini jauh sebelum istilah itu populer di ruang-ruang seminar universitas Barat, tanpa perlu menyebutnya dengan terminologi akademis.<\/p>\n\n\n\n<p>Pramoedya juga mengingatkan bahwa seorang intelektual tidak boleh menjaga jarak aman dari realitas yang ia teliti. Gramsci (1971) menyebut intelektual organik sebagai mereka yang menggunakan pengetahuannya untuk berpihak kepada yang tertindas, bukan sekadar mengamati dari kejauhan. Pramoedya menanggung risiko itu dengan sangat nyata, mulai dari penjara, pembuangan, hingga pelarangan karya. Dalam hal itu ia adalah teladan intelektual organik yang sesungguhnya.<\/p>\n\n\n\n<p>F.&nbsp;Penutup:&nbsp;Ingatan&nbsp;sebagai&nbsp;Perlawanan<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer adalah buku yang tidak nyaman, dan memang seharusnya begitu. Ia hadir untuk mengganggu, bukan menghibur. Ia mengingatkan kita bahwa setiap kali kita membiarkan narasi kekerasan atas perempuan tenggelam dalam keheningan kolektif, kita turut serta dalam kekerasan itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai bagian dari Advokastra HIMAHI FISIP Universitas Hasanuddin, sebuah lembaga kajian yang berkomitmen pada advokasi, literasi kritis, dan penegakan nilai-nilai kemanusiaan dalam studi hubungan internasional, kami membaca buku ini bukan sebagai artefak masa lalu, melainkan sebagai cermin masa kini. Karena selama militerisme masih mengorbankan perempuan, selama negara-negara masih memilih diam atas kejahatan yang mereka biarkan atau lakukan, dan selama suara para korban masih harus bersembunyi dalam naskah-naskah yang disembunyikan, Pramoedya masih relevan. Dan kita masih punya pekerjaan rumah.<\/p>\n\n\n\n<p>Ingatan&nbsp;bukan&nbsp;beban. Ia&nbsp;adalah&nbsp;senjata. Dan&nbsp;membaca&nbsp;adalah&nbsp;tindakan&nbsp;politik&nbsp;pertama&nbsp;yang paling&nbsp;terjangkau&nbsp;namun&nbsp;paling&nbsp;berbahaya&nbsp;bagi&nbsp;mereka&nbsp;yang&nbsp;berkepentingan&nbsp;agar&nbsp;kita&nbsp;tetap&nbsp;tidak&nbsp;tahu.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>REFERENSI<\/p>\n\n\n\n<p>Crenshaw, K. (1989). Demarginalizing the intersection of race and sex: A Black feminist critique of antidiscrimination doctrine, feminist theory and antiracist politics. University of Chicago Legal Forum, 1989(1), 139\u2013167.<\/p>\n\n\n\n<p>Enloe, C. (2000). Maneuvers: The international politics of militarizing women\u2019s lives. University of California Press.<\/p>\n\n\n\n<p>Foulcher, K. (2006). Pramoedya Ananta Toer and the colonial past: History, fiction, and the production of Indonesian national consciousness. Journal of Southeast Asian Studies, 37(1), 23\u201348.<\/p>\n\n\n\n<p>Galtung, J. (1969). Violence, peace, and peace research. Journal of Peace Research, 6(3), 167\u2013191.<\/p>\n\n\n\n<p>Gramsci, A. (1971). Selections from the prison notebooks. International Publishers.<\/p>\n\n\n\n<p>Komnas Perempuan. (2022). Catatan tahunan tentang kekerasan terhadap perempuan 2022. Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan.<\/p>\n\n\n\n<p>Portelli, A. (1991). The death of Luigi Trastulli and other stories: Form and meaning in oral history. State University of New York Press.<\/p>\n\n\n\n<p>Shepherd, L. J. (2008). Gender, violence and security: Discourse as practice. Zed Books.<\/p>\n\n\n\n<p>Soh, C. S. (2008). The comfort women: Sexual violence and postcolonial memory in Korea and Japan. University of Chicago Press.<\/p>\n\n\n\n<p>Spivak, G. C. (1988). Can the subaltern speak? Dalam C. Nelson &amp; L. Grossberg (Eds.), Marxism and the interpretation of culture (hlm. 271\u2013313). University of Illinois Press.<\/p>\n\n\n\n<p>Tickner, J. A. (2001). Gendering world politics: Issues and approaches in the post-Cold War era. Columbia University Press.<\/p>\n\n\n\n<p>Toer, P. A. (2001). Perawan remaja dalam cengkeraman militer: Dari buku harian seorang bukan pejuang. Kepustakaan Populer Gramedia.<\/p>\n\n\n\n<p>UN Security Council. (2023). Conflict-related sexual violence: Report of the Secretary-General (S\/2023\/413). United Nations.<\/p>\n\n\n\n<p>Wahyuningroem, S. L. (2013). Seduced and abandoned: State, victim, and history in transitional justice in Indonesia. Dalam K. McGregor &amp; E. Pohlman (Eds.), The Indonesian genocide of 1965 (hlm. 69\u201390). Palgrave.<\/p>\n\n\n\n<p>Yoshimi, Y. (2000). Comfort women: Sexual slavery in the Japanese military during World War II. Columbia University Press.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh Andi syahrun ramdahani hasyim Ada jenis kekerasan yang tidak meledak. Ia merayap, meresap ke dalam tubuh, dan mengendap dalam diam. Itulah kekerasan yang Pramoedya<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/2026\/06\/01\/militerisme-dan-perempuan-relevansi-buku-perawan-remaja-dalam-cengkeraman-militer-hingga-hari-ini\/\" class=\"more-link\">Read More<span class=\"screen-reader-text\"><strong>Militerisme\u00a0dan Perempuan:\u00a0Relevansi\u00a0Buku\u00a0<em>Perawan\u00a0Remaja\u00a0dalam\u00a0Cengkeraman\u00a0Militer<\/em>\u00a0hingga\u00a0Hari Ini<\/strong>\u00a0<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[1],"tags":[47,48,43],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1947"}],"collection":[{"href":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1947"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1947\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1951,"href":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1947\/revisions\/1951"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1947"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1947"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1947"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}