{"id":271,"date":"2015-12-20T21:25:37","date_gmt":"2015-12-20T13:25:37","guid":{"rendered":"http:\/\/himahiunhas.id\/?p=271"},"modified":"2016-01-15T07:59:25","modified_gmt":"2016-01-14T23:59:25","slug":"transformasi-aktor-politik-internasional-studi-kasus-peranan-greenpeace-terhadap-kerusakan-lingkungan-di-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/2015\/12\/20\/transformasi-aktor-politik-internasional-studi-kasus-peranan-greenpeace-terhadap-kerusakan-lingkungan-di-indonesia\/","title":{"rendered":"TRANSFORMASI AKTOR POLITIK INTERNASIONAL:  Studi Kasus Peranan Greenpeace Terhadap Kerusakan Lingkungan di Indonesia"},"content":{"rendered":"<p><strong><em>Abdul Rauf Rahmansyah (HI 2013)<\/em><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lingkungan hidup dilihat dari hakikatnya merupakan suatu ruang yang menggambarkan dimana makhluk hidup berada dan apa yang melingkupi makhluk hidup itu sendiri. Kita sebagai manusia yang hidup di bumi ini secara sadar mengetahui bahwa kita tak hidup sendirian. Manusia yang hidup di muka bumi ini menjalankan kehidupan bersama makhluk lain seperti tumbuhan, hewan, dan jasad renik. Organisme \u2013 organisme tersebut bukanlah sekedar mendampingi manusia untuk hidup yang terkesan netral maupun pasif terhadap manusia. Kesemuanya itu sebenarnya saling bergantung dan tak dapat dipisahkan. Contohnya seperti manusia yang membutuhkan oksigen dari tumbuhan dan sebaliknya, tumbuhan memerlukan karbondioksida yang berasal dari manusia. Jadi, anggapan terhadap manusia sebagai makhluk yang paling berkuasa di muka bumi ini adalah tak benar.<!--more--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Isu lingkungan hidup menjadi salah satu agenda global pada abad ke \u2013 21 yang melibatkan banyak pihak seperti pemimpin politik, pejabat pemerintah, ilmuwan, industrialis, LSM, dan warga Negara. Ada pergeseran tingkatan pada isu lingkungan yang pada awalnya hanya berada di level <em>Soft Politic<\/em> menjadi salah satu isu sentral pada perpolitikan dunia (<em>World Politics<\/em>). Pembahasan lingkungan telah menjadi hal yang dirundingkan secara global karena sangat penting setelah agenda klasik dalam politik internasional, yaitu isu keamanan dan isu ekonomi. Kemunculan dari isu lingkungan itu sendiri disebabkan oleh beberapa faktor seperti berakhirnya rivalitas Amerika Serikat dan Uni Soviet dalam bidang ideologi dan militer yang menjadi peluang munculnya masalah lingkungan yang diperbincangkan Negara \u2013 Negara Barat, Timbulnya kesadaran publik dan media terhadap lingkungan global yang mulai terdegradasi, dan Kaum intelektual yang mempublikasi hasil penelitian mereka tentang kondisi lingkungan kepada para pembuat kebijakan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Perkembangan terhadap isu lingkungan yang menjadi perbincangan global, menurut Winarno (2014), disebabkan oleh beberapa masalah lingkungan hidup secara inheren bersifat global seperti emisi Karbondioksida yang menjadi contributor dalam perubahan iklim, beberapa masalah dikaitkan dengan eksploitasi <em>The Global Commons<\/em>, yaitu : sumber \u2013 sumber yang menjadi milik bersama dari seluruh anggota masyarakat internasional seperti samudera, atmosfer, dasar laut, dan ruang angkasa yang harus dipelihara dan dipertahankan untuk kepentingan bersama, banyak masalah lingkungan hidup yang secara intrinsik transnasional dimana telah melewati batas \u2013 batas Negara bahkan sekalipun masalah \u2013 masalah itu tidak seluruhnya bersifat global seperti emisi <em>Sulphur dioxide<\/em> yang mengandung hujan asam berasal dari satu Negara akan terbawa angin dan memasuki wilayah Negara lainnya yang melibatkan aktor Negara dan non \u2013 Negara untuk bisa menyumbang terhadap berbagai masalah atau berbagai upaya untuk menanggulanginya, dan banyak proses eksploitasi yang berlebihan atau degradasi lingkungan hidup yang secara relative dalam skala lokal atau nasional yang terjadi di sejumlah tempat di seluruh dunia kemudian dipandang sebagai masalah \u2013 masalah global seperti polusi sungai dan deforestasi karena adanya pengaruh politik dan ekonomi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 <em>Greenpeace<\/em> adalah salah satu organisasi internasional yang memperhatikan masalah lingkungan di seluruh dunia Organisasi ini tersebar di berbagai belahan negara, salah satunya Indonesia. Greenpeace Indonesia telah banyak berkontribusi dalam berbagai macam kasus yang terkait dengan permasalahan yang ada di Indonesia. Sebagian besar kasus yang ditangani di Indonesia mengarah pada kerusakan hutan yang disebabkan oleh perlakuan aktivitas destruktif dan efek dari produk \u2013 produk konsumsi masyarakat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jackson dan Sorensen (1999 :326) menyebutkan bahwa kemunculan Politik Hijau dilatarbelakangi oleh protes kaum eko-radikal terhadap kaum modernis yang dianggap telah memperburuk keadaan lingkungan global yang ditunjukkan dengan adanya degradasi lingkungan yang menyebabkan krisis ekologi, seperti menipisnya hutan di dunia. Politik Hijau juga menolak eksistensi Negara sebagai fokus hubungan internasional. Hal ini dikarenakan negara dianggap sebagai bagian dari masyarakat modern yang menjadi pelaku perusak lingkungan yang mendukung antroposentrisme.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Beberapa contoh kasus yang pernah ditangani oleh <em>Greenpeace <\/em>di Indonesia dalam tulisan dari Handayani dkk (2013) adalah sebagai berikut :<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Kasus Penyelundupan Kayu Merbau dari Indonesia ke RRC<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Kasus kerusakan lingkungan yang terjadi di Indonesia yaitu kebakaran hutan. Indonesia dianggap tidak mampu mengelola hutan dengan baik karena masih terus \u00a0berlangsungnya pembalakan liar (<em>illegal loging<\/em>\u00a0) dan perdagangan hasil hutan secara ilegal. Adanya <em>illegal loging<\/em> terkait dengan sindikat regional dan internasional yang ikut terlibat dalam penyelundupan kayu dari Indonesia. Pengawasan pemerintah yang semakin berkurang karena keterbatasan perlengkapan pendukung dan kurangnya diplomasi dengan negara tetangga dalam pemberantasan <em>illegal loging <\/em>membuat \u00a0persentase penyelundupan kayu dari Indonesia ke luar negeri semakin meningkat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Kayu yang diselundupkan dari Indonesia diputihkan di Malaysia, Singapura, dan RRC. Indonesia kehilangan kayu yang ditebang secara liar, khususnya kayu Merbau yang merupakan jenis kayu yang memiliki harga jual tinggi di pasar internasional. Salah satu impotir kayu merbau adalah RRC, yang juga merupakan konsumen sekaligus pasar terbesar kayu merbau di dunia. Penyelundupan kayu merbau dari Papua ke RRC setiap bulannya mencapai 300.000 m<sup>3<\/sup>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Merbau merupakan jenis kayu yang menghadapai resiko kepunahan tinggi di alam bebas karena mengalami eksploitasi yang besar. Untuk itu lah <em>Greenpeace<\/em> berupaya untuk mencegah terjadinya kepunahan serta melakukan tindakan dengan menekan pemerintah Indonesia untuk melakukan peningkatan sistem kontrol pengelolaan hutan. <em>Greenpeace<\/em> berupaya dengan aksi nyata untuk menghentikan \u00a0pembalakan liar dan perdagangan tidak sah dengan cara berkampanye menyelamatkan lingkungan hidup dan berbagai hutan di dunia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Kerjasama yang dilakukan oleh <em>Greenpeace<\/em> Indonesia dengan <em>Greenpeace<\/em> RRC antara lain :<\/p>\n<ol style=\"text-align: justify;\">\n<li>Melakukan kampanye dan melobby<\/li>\n<li>Melakukan investigasi langsung di pulau Papua<\/li>\n<li>Melakukan pemetaan terhadap wilayah \u2013 wilayah yang menjadi tempat pembalakan liar<\/li>\n<li>Mencari informasi tentang pihak \u2013 pihak mana saja yang terlibat dalam pembalakan liar kayu merbau di pulau Papua<\/li>\n<li>Menggunakan satelit terhadap hutan Papua<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan upaya \u2013 upaya tersebut, peran <em>Greenpeace<\/em> cukup signigfikan dan membuat kasus penyelundupan kayu merbau ke RRC mengalami penurunan. <em>Greenpeace<\/em>\u00a0juga mendorong pemerintah untuk meningkatkan penegakan hukum terhadap pembalakan liar. Peran <em>Greenpeace<\/em> juga mendapatkan hasil yang baik terhadap perusahaan \u2013 perusahaan besar yang mengeksploitasi kayu merbau di Papua, karena pemerintah menindaklanjuti tindakannya dengan menutup jalur transportasi \u00a0pengiriman kayu dan memberlakukan perundang \u2013 undangan guna menghentikan \u00a0pembuatan distribusi atau penjualan kayu yang digunakan dan dinyatakan legal oleh \u00a0badan FSC (Forest Stewardship Council).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Kasus Penggunaan Kemasan Barbie yang Dapat Merusak Hutan Indonesia<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Produsen boneka Barbie yang terkenal dikecam karena telah menggunakan kemasan yang bahan bakunya berasal dari hutan Indonesia. Kelompok peduli lingkungan <em>Greenpeace<\/em> melakukan investigasi sejak tahun 2009 pada semua kemasan mainan dunia. Dari investigasi itu mereka menemukan produsen Barbie (Mattel), mainan merk Disney, Hasbro, dan Lego menggunakan kemasan dari produsen yang sama.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sejumlah produsen kemasan mainan merk terkenal tersebut menggunakan \u00a0bahan baku yang berasal dari hutan rimba Indonesia yang menjadi rumah harimau Sumatera. Investigasi dilakukan dengan mengambil sampel setiap kemasan mainan. Dari hasil uji lab ditemukan kemasan mainan mengandung <em>Mixed Tropical Hardwood <\/em>(MTH) atau kayu rimba campuran yang berasal dari penghancuran hutan alam yang hanya diproduksi di hutan tropis Indonesia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan adanya hasil investigasi ini, <em>Greenpeace<\/em> meminta agar perusahaan mainan dunia seperti Mattel, Disney, Hasbro, dan Lego untuk menghentikan menggunakan kemasan yang berbahan baku MTH karena dapat merusak hutan Indonesia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Perusakan Habitat Spesies Orangutan di Hutan Kalimantan yang Merupakan Akibat dari Perusahaan Minyak Sawit<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 <em>Greenpeace<\/em> menangkap basah kegiatan perusahaan minyak sawit, Bumitama Agri Ltd, saat mereka membabat hutan gambut yang merupakan habitat kritis orangutan. Konsesi Bumitama Agri Ltd bersebelahan dengan taman nasional yang terkenal di seluruh dunia. Selama lebih dari enam bulan, beberapa Organisasi Lingkungan global telah mendesak perusahan ini untuk menghentikan praktek mereka yang merusak, tapi di lapangan pembukaan lahan terus berlangsung dan orangutan yang hidup dalam konsesi mereka sangat menderita.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Greenpeace <\/em>menginginkan konfirmasi segera dari Bumitama Agri Ltd bahwa semua pembukaan lahan telah dihentikan dan mereka berkomitmen untuk melindungi hutan dan lahan gambut di seluruh konsesinya. Bumitama Agri Ltd anggota dari RSPO (<em>Rountable Sustainable Palm Oil<\/em>\u00a0) telah berjanji sebelumnya, mengklaim akan menghentikan pengembangan di sebuah konsesi mereka awal tahun 2013 setelah \u00a0penemuan beberapa orangutan yang terpojok di kawasan hutan yang tersisa. Namun, analisa pemetaan <em>Greenpeace <\/em>mengungkapkan bahwa perusahaan ini telah merusak 1.150 hektar hutan di wilayah konsesinya sepanjang tahun 2013. Ancaman pada orangutan dan hutan Indonesia masih akan terus terjadi sampai sekarang hingga Bumitama Agri Ltd berkomitmen pada kebijakan Nol <em>Deforestasi<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Wilmar International adalah pedagang minyak sawit terbesar di dunia dan <em>investor\u00a0<\/em>utama Bumitama Agri dan sumber dari separuh produksi Bumitama. Konsumen memiliki hak penuh untuk menuntut jaminan dari Wilmar agar menghentikan pencucian minyak sawit yang berasal dari pengrusakan hutan ke tengah \u00a0pasar global. Konsumen tidak ingin dijadikan bagian dari pengrusakan hutan dan mendesak agar segera diambil tindakan. Beberapa pelanggan Wilmar termasuk Ferrero, Mondelez, Nestle dan Unilever telah berkomitmen untuk menghapuskan deforestasi dari rantai pasokan minyak sawit mereka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Greenpeace<\/em>, didukung gerakan pendukungnya yang terus bertambah \u00a0jumlahnya menuntut minyak sawit bersih, dan akan terus mendokumentasi dan mengungkapkan aksi kotor pengrusakan hutan yang diperdagangkan ke pasar global.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Isu \u2013 isu lingkungan internasional memberikan tantangan terhadap berbagai pendekatan dominan dalam hubungan internasional. Winarno (2014: 142) menuturkan bahwa satu contoh berkaitan dengan signifikansi dan peran Negara. Tradisi dominan di dalam hubungan internasional adalah <em>state \u2013 centric<\/em>, yang menekankan pada konsep kedaulatan rakyat dan keyakinan bahwa Negara adalah aktor utama dalam hubungan internasional, dan bahwa politik internasional secara luas digerakkan oleh Negara yang mengejar kepentingannya. Namun, lingkungan internasional memberikan masalah \u2013 masalah yang riil bagi pemikiran yang telah mapan tentang sifat dan keterbatasan kedaulatan Negara. Lebih dari itu, masalah \u2013 masalah jarang disebabkan oleh tindakan secara hati \u2013 hati dari kebijakan nasional, namun merupakan efek samping yang tidak diinginkan dari proses sosial ekonomi yang luas. Sejumlah aktor non \u2013 Negara; termasuk perusahaan, otoritas lokal, lembaga \u2013 lembaga keuangan, kelompok sosial, dan individu paling tidak sama pentingnya dalam proses \u2013 proses ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Hal tersebut tergambarkan pada kasus yang ditangani oleh <em>Greenpeace<\/em> di atas bahwa Indonesia sebagai Negara meskipun telah memiliki regulasi yang jelas terhadap lingkungan hidup masih belum mampu menyelesaikan masalah \u2013 masalah lingkungan yang terjadi karena implementasinya secara teknis kemungkinan tidak menunjang dan tidak merata. Lalu, adanya <em>bargaining power <\/em>terhadap komoditi di hutan Nusantara serta pemberian konsesi dari Indonesia terhadap aktor non \u2013 Negara lainnya menjadi titik api dalam terjadinya eksploitasi lingkungan yang brutal. Hal inilah yang menjadi titik penting bagi <em>Greenpeace<\/em> sebagai salah satu kelompok yang menyuarakan pelestarian lingkungan dapat menangkal sedikit demi sedikit dampak dari kerusakan hutan yang terjadi di Indonesia di mana upaya yang dilakukan telah menembus batas \u2013 batas aktor hubungan internasional dan melampaui batas Negara (<em>International Collaboration<\/em>).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Referensi :<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Greenpeace Indonesia. 2008. Sejarah Greenpeace. <a href=\"http:\/\/www.greenpeace.org\/seasia\/id\/about\/sejarah-greenpeace\/\"><em>http:\/\/www.greenpeace.org\/seasia\/id\/about\/sejarah-greenpeace\/<\/em><\/a>. 05 Desember 2015 (02:56 WITA).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Handayani, wuri, dkk. 2013. Peranan Greenpeace dalam Menyelesaikan Beberapa Kasus Perusakan Lingkungan di Indonesia. <a href=\"http:\/\/www.academia.edu\/9684222\/MAKALAH_PERANAN_GREENPEACE_INDONESIA_DALAM_MENYELESAIKAN_BEBERAPA_KASUS_PERUSAKAN_LINGKUNGAN_DI_INDONESIA\"><em>http:\/\/www.academia.edu\/9684222\/MAKALAH_PERANAN_GREENPEACE_INDONESIA_DALAM_MENYELESAIKAN_BEBERAPA_KASUS_PERUSAKAN_LINGKUNGAN_DI_INDONESIA<\/em><\/a>. 05 Desember 2015 (01:34 WITA).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jackson, Robert dan Georg Sorensen. 1999. <em>Introduction to International Relations.<\/em> Oxford University Press Inc. New York. Terjemahan Dadan Suryadipura. 2005. <em>Pengantar Studi Hubungan Internasional. <\/em>Cetakan II. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Winarno, Budi. 2014. <em>DInamika Isu \u2013 Isu Global Kontemporer<\/em>. Cetakan pertama. CAPS ( Center of Academic Publishing). Yogyakarta.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Abdul Rauf Rahmansyah (HI 2013) Lingkungan hidup dilihat dari hakikatnya merupakan suatu ruang yang menggambarkan dimana makhluk hidup berada dan apa yang melingkupi makhluk hidup<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/2015\/12\/20\/transformasi-aktor-politik-internasional-studi-kasus-peranan-greenpeace-terhadap-kerusakan-lingkungan-di-indonesia\/\" class=\"more-link\">Read More<span class=\"screen-reader-text\">TRANSFORMASI AKTOR POLITIK INTERNASIONAL:  Studi Kasus Peranan Greenpeace Terhadap Kerusakan Lingkungan di Indonesia<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":272,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[1],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/271"}],"collection":[{"href":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=271"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/271\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/272"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=271"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=271"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=271"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}