{"id":438,"date":"2016-05-17T11:51:30","date_gmt":"2016-05-17T03:51:30","guid":{"rendered":"http:\/\/himahiunhas.id\/?p=438"},"modified":"2016-05-17T11:57:14","modified_gmt":"2016-05-17T03:57:14","slug":"selamatkan-hari-buku-nasional","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/2016\/05\/17\/selamatkan-hari-buku-nasional\/","title":{"rendered":"Selamat(kan) Hari Buku"},"content":{"rendered":"<p><em><strong>Oleh: Rial Ashari (HI 2012)<\/strong><\/em><\/p>\n<p>Ada suatu penyakit yang menyebar di kalangan pemuda masa kini. Manusia-manusia yang lahir dari rahim era teknologi informasi ini, mengidap penyakit alergi\u00a0terhadap teks panjang. Mereka memang bisa liar menjelajah dunia maya yang\u00a0penuh dengan informasi. Tapi bukan soal informasi apa yang dapat dicerna di\u00a0internet, media sosial atau blog, melainkan informasi mana yang lebih menarik, lebih\u00a0eye-catching.\u00a0Tanpa kecuali, peselancar dunia maya menyukai humor. Buktinya siapa yang tidak\u00a0pernah membuka\/mendengar akun 9GAG, 1CAK dan teman-teman sejenisnya.\u00a0Tidak cukup dibaca, humor-humor segar tersebut biasanya menyediakan gambar-gambar yang kocak (kita sebut saja ia meme). Dan, inilah yang banyak menghiasi\u00a0timeline akun-akun media sosial anak-anak muda. Kalau \u201csesuatu\u201d itu tidak\u00a0mengandung unsur-unsur kelucuan, maka ia tak akan dibaca lama-lama. Jangankan\u00a0sebuah buku, status facebook yang kepanjangan saja orang akan bisa malas\u00a0membacanya sampai habis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Padahal di internet sudah sangat banyak sumber-sumber informasi, portal-portal\u00a0yang menyediakan ruang berdiskusi tentang banyak hal terutama fenomena sosial\u00a0politik (semoga kita juga tidak alergi yang satu ini). Namun sayangnya kondisi ini\u00a0tidak menjamin orang-orang menjadi pembaca yang telaten, malah keberlimpahan\u00a0informasi membuat semakin sulit membedakan mana teks yang \u201cberguna\u201d dan mana\u00a0yang sekedar membuat tertawa tanpa muatan ilmiah. Inilah yang saya maksud\u00a0sebagai alergi teks.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tanggal 23 April kemarin diperingati sebagai hari buku sedunia. Tidak perlu\u00a0dijelaskan lagi arti penting buku dan arti penting membaca, terutama bagi pelajar,\u00a0mahasiswa, dosen bahkan untuk seorang ibu rumah tangga. Kata guru saya, buku\u00a0adalah jendela dunia. Dan memang seperti itulah adanya. Membaca buku (bukan\u00a0meme ataupun antologi puisi), menjadi syarat aktifitas keilmuan lainnya yakni\u00a0menulis dan berdiskusi. Mustahil bisa menulis skripsi kalau tidak membaca buku\u00a0dulu, dan adalah konyol memperdebatkan marxisme sebelum membaca tulisan-tulisan Marx sendiri. Kira-kira seperti itulah.\u00a0Untuk menjadi seorang pembaca yang baik, uniknya, seseorang harus menjadi\u00a0semi-asosial. Bagaimana tidak, membaca buku adalah susah, kalau bukan tidak\u00a0mungkin, sambil mengobrol dengan teman. Ditambah lagi ketika membaca buku,\u00a0seseorang harus mengasingkan diri dari lingkungan untuk menghindari hal-hal yang\u00a0bisa mengganggu konsentrasi. Namun dengan membaca buku, di saat bersamaan\u00a0seseorang akan dapat berjumpa dengan orang-orang dan melihat peristiwa yang\u00a0diceritakan dalam buku. Pengalaman ini bukan pengalaman aktual langsung, namun\u00a0tetap bisa digolongkan sebagai bersosialisasi (baca: pengalaman literasi).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kemampuan membaca, bila kita tahu sedikit sejarah abad pertengahan eropa, bisa\u00a0jadi adalah kemampuan yang paling kita syukuri saat ini. Serangan kaum barbar dari\u00a0utara dan kehancuran kerajaan Roma, mengubur kebudayaan klasik (termasuk\u00a0menghilangkan literasi) dan mengantar eropa ke abad kegelapan. Pada masa itu,\u00a0secara misterius penggunaan aksara Roma menyusut sedmikian rupa sampai\u00a0penduduk pada umumnya berhenti membaca dan menulis. Literasi yang\u00a0sebelumnya tersebar luas, perlahan hanya dikuasai segelintir orang yang\u00a0membentuk \u201ckelas penulis\u201d, dan karenanya ia kelas istimewa.\u00a0Satu dugaan yang diajukan atas lanskap fenomena ini, adalah selama abad\u00a0pertengahan, gaya penulisan huruf dan aksara yang berlipat ganda, bentuk-\u00a0bentuknya makin rumit dan samar. Kaligrafi yang ada pada saat itu menarik karena\u00a0bentuknya, lantas menghilangkan kemampuan masyarakat luas untuk membaca.\u00a0Hal ini karena membaca adalah praktik yang harus berlangsung secara cepat dan\u00a0otomatis, serta huruf-huruf yang dibaca harus mudah diingat sebagai syaratnya.\u00a0Keahlian kaligrafi inilah yang kontradiktif dengan praktik membaca secara luas.\u00a0Masyarakat eropa saat itu dilanda ketidakmampuan menginterpretasikan aksara dan\u00a0hal ini berlangsung ribuan tahun. Bersamaan dengan itu, di jaman ini segala\u00a0interaksi sosial yang penting dilakukan secara lisan, tatap muka. Aktifitas seperti\u00a0khotbah, drama dan penyampaian puisi, balada dan dongeng lah yang\u00a0memasyarakat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain itu, faktor yang menyebabkan punahnya literasi sosial juga adalah langkanya\u00a0papirus dan lembaran kulit sebagai bahan yang memuat teks. Barulah setelah\u00a0ditemukannya kertas muncul pula universitas-universitas besar.\u00a0Satu hal lagi, cara membaca orang abad pertengahan kira-kira sama dengan anak\u00a0kelas satu sekolah dasar hari ini. Kata demi kata, bergumam, jari menunjuk teks dan\u00a0tidak yakin yang dibacanya masuk akal. Dan, yang melakukan ini adalah para\u00a0cendekia. Sungguh, orang jaman itu susah membaca. Bersyukurlah kita hari ini yang\u00a0melek huruf.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kondisi manusia jaman ini bertolak belakang dengan jaman pertengahan eropa.\u00a0Hampir semua orang melek huruf. Hampir tiap orang setiap beberapa menit melihat\u00a0ke smartphone di tangannya. Pertanyaannya, teks atau konten apakah yang ia baca\u00a0paling sering? \u201cKaligrafi\u201d jaman ini (mungkin) adalah meme, lirik lagu, pornografi,\u00a0drama korea, kartun-kartun anime dan semua hal yang tidak mengandung pelajaran\u00a0tentang situasi ekonomi dan sosial-politik aktual umat manusia hari ini.\u00a0Akhirnya, saya mengaku juga sedang terdiagnosa penyakit alergi teks ini, buku\u00a0setipis Manifesto tidak mampu saya selesaikan berbulan-bulan. Opini di atas\u00a0sekiranya dikritik dan\/atau dibantah sekeras-kerasnya. Selamat hari buku, mari\u00a0membaca lagi.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Rial Ashari (HI 2012) Ada suatu penyakit yang menyebar di kalangan pemuda masa kini. Manusia-manusia yang lahir dari rahim era teknologi informasi ini, mengidap<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/2016\/05\/17\/selamatkan-hari-buku-nasional\/\" class=\"more-link\">Read More<span class=\"screen-reader-text\">Selamat(kan) Hari Buku<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":439,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[20],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/438"}],"collection":[{"href":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=438"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/438\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/439"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=438"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=438"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/himahiunhas.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=438"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}