Oleh St. Noer Azalia

Korea Selatan sudah lama dikenal dunia melalui kekuatan soft power-nya, terutama lewat musik, drama, film, dan budaya pop yang tergabung dalam fenomena Hallyu Wave. Budaya populer ini terbukti menjadi alat diplomasi yang efektif dalam membangun citra Korea Selatan sebagai negara yang modern, kreatif, dan berpengaruh di tingkat global.

Pada Oktober 2025, film Good News menambah daftar keberhasilan sinema Korea Selatan, namun dengan arah yang berbeda. Tidak lagi sekadar menawarkan hiburan, film ini hadir sebagai refleksi politik dan sejarah. Di balik dark jokes dan ketegangan dalam setiap adegan, Good News mengangkat isu sensitif seperti ideologi, komunisme, dan memori kolektif Korea terhadap masa lalunya. Film ini menunjukkan bahwa budaya populer juga dapat menjadi ruang refleksi kritis terhadap sejarah dan politik.

Konsep soft power yang diperkenalkan Joseph Nye menjelaskan bagaimana negara dapat memengaruhi pihak lain melalui daya tarik budaya, nilai, dan ide, bukan melalui paksaan militer (hard power) (Kunkunrat, 2024). Korea Selatan kerap disebut sebagai contoh sukses praktik soft power, dari K-pop hingga sinema yang membangun cultural legitimacy dalam diplomasi global (Kunkunrat, 2024). Namun, Good News menghadirkan bentuk baru soft power, ketika budaya tidak hanya menarik secara estetis, tetapi juga menyampaikan refleksi ideologis secara halus dan tidak mendorong penerimaan ide secara mutlak.

Film Good News karya sutradara Byun Sunghyun terinspirasi dari peristiwa nyata pembajakan pesawat Japan Airlines Flight 351 pada tahun 1970, yang dikenal sebagai insiden Yodogo hijacking. Peristiwa ini melibatkan kelompok kiri radikal Jepang yang memaksa pesawat tersebut terbang ke Korea Utara dan menjadi simbol ekstremisme politik era Perang Dingin (BBC, 2016). According to catatan kepolisian Jepang, insiden ini meninggalkan dampak diplomatik yang panjang antara Jepang, Korea Selatan, dan komunitas internasional (Japan, n.d.).

Alih-alih menampilkan peristiwa tersebut secara dokumenter, Byun Sunghyun mengolahnya menjadi satire yang mengkritik obsesi manusia terhadap ideologi. Tragedi politik diubah menjadi komedi absurd dengan memadukan trauma kolektif dan humor. Pendekatan ini memungkinkan penonton untuk menertawakan sesuatu yang kelam tanpa menghapus konteks historisnya, sekaligus mempertanyakan kembali makna ekstremisme politik.

Dalam perspektif Hubungan Internasional, Good News menjadi contoh bagaimana budaya dapat berfungsi sebagai instrumen diplomasi. Keberhasilan Korea Selatan terletak pada kemampuannya menggunakan budaya populer sebagai “jembatan ideologis” yang membangun empati audiens global. Pesan ideologi dalam Good News tercermin dalam tiga aspek utama. Pertama, rekonsiliasi dengan masa lalu. Film ini menantang trauma sejarah era Perang Dingin yang dialami Korea Selatan dan Jepang, dengan mengubah tragedi menjadi refleksi nasional melalui satire. Pendekatan ini menunjukkan kematangan Korea Selatan dalam menghadapi sejarahnya, yakni dengan berani mengakui luka tanpa menghapus penderitaan. Kedua, penekanan pada kemanusiaan di atas ideologi. Film ini menggambarkan tokoh-tokohnya sebagai manusia biasa yang terjebak dalam konflik ideologis, bukan sebagai representasi hitam-putih antara benar dan salah. Ketiga, kritik terhadap ekstremisme politik. Melalui humor, Good News memparodikan obsesi ideologi yang kerap menyingkirkan rasionalitas dan empati dalam masyarakat modern.

Keberhasilan Good News menarik perhatian penonton global sejalan dengan diplomasi budaya Korea Selatan yang semakin menekankan penyampaian nilai-nilai universal, seperti kemanusiaan dan keterbukaan, melalui media hiburan (Jang, 2012). The Korea Times mencatat bahwa film ini “mengundang tawa sekaligus empati internasional,” sehingga dunia tidak lagi memandang Korea Selatan hanya sebagai korban sejarah, melainkan sebagai aktor yang mampu menciptakan makna baru dari sejarah tersebut (The Korea Times, 2025).

REFERENSI

BBC. (2016). The Yodogo Hijacking.
Byung-yeul, B. (2025). Black comedy ‘Good News’ reimagines real-life hijacking for modern era.
Jang, G. (2012). Korean Wave as Tool for Korea’s New Cultural Diplomacy.
Japan, N. P. (n.d.). Movements of the Japanese Red Army and the “Yodo-go” Group.
Kunkunrat. (2024). Korean Cultural Diplomacy: Uniting Society Through Soft Power.
NK News. (2020). Destination Pyongyang: the Yodo hijacking incident, 50 years on.
The Korea Times. (2025). ‘Good News’ turns 1970 Yodogo hijacking into sharp satire, earning critical praise.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *