Oleh Syakinah Azalea Aniqah

Dalam satu dekade terakhir Gelombang Korea atau Hallyu merupakan salah satu fenomena paling signifikan dalam globalisasi budaya kontemporer. Musik K-pop, drama, film, hingga gaya hidup Korea telah menembus batas geografi dan sosial, menjadikan Korea Selatan simbol modernitas Asia yang diakui secara global. Hal ini kemudiab dimanfaatkan secara strategis sebagai instrumen soft power untuk memajukan kepentingan nasional, baik melalui peningkatan citra negara, perluasan engarus diplomatik, dan juga keuntungan ekonomi seperti pariwisata, investasi, dan kerja sama perdagangan. Hallyu membuktikan bahwa Asia mampu menentang adanya dominasi budaya Barat.

Namun, dibalik narasi keberhasilan tersebut, terdapat ironi mendasar yang sangat jarang dipertanyakan secara kritis. Industri budaya Korea kelihatannya sangat mencari pengakuan Barat (Western Validatiom), sementara dukungan terbesar dan sangat loyal berasal dari negara- negara Asia lainnya, khususnya Asia Tenggara. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan penting yaitu mengapa, di tengah kesuksesan yang dibangun di atas fondasi Asia, legitimasi utama tetap dicari dari Barat, seolah-olah hannya dari sanalah nilai global itu dapat ditentukan?

Secara empiris, kontribusi Asia terhadap industri Hallyu tidak dapat dibantah. Penggemar K-pop di Asia dikenal memili tingkat konsumsi yang tinggi dan konsisten, mencakup pembelian album fisik, merchandise, layanan streaming hingga tiket konser. Data Chartmetric tahun 2024 mrnunjukkan bahwa Asia Tenggara merupakan kawasan dengan tingkat konsumsi K-pop tertinggi secara global. Indonesia berada di posisi teratas dengan persentase 18,4%, melampaui Amerika Serikat 10,2% dan bahkan Korea Selatan sendiri 7,1%. Selain itu, Filipina, Thailand, Vietnam dan Jepang juga termasuk jajaran konsumen terbesar. Fakta ini menegaskan bahwa Asia bukan sekedar pendukung tambahan, melankan fondasi ekonomi utama dari keberlanjutan industri Hallyu.

Walau demikian, kontribusi ekonomi yang besar ini tidak berbanding lurus dengan pengakuan simbolik yang diberikan. Media korea dan wacana industri cenderung menempatkan Billboard, Grammy Amerika Serikat atau tangga lagu Eropa sebagai tolok ukur utama kesuksesan global. Sebaliknya, rekor penjualan dan popularitas di Asia tenggara kerap direduksi menjadi sekedar “keberhasilan pasar”. Di sinilah tampak paradoks yang mencolok yaitu Asia diposisikan sebagai sumber keuntungan finansial, sementara Barat tetap menjadi sumber prestise dan legitimasi budaya. Ketimpangan ini mencerminkan bentuk diskriminasi
simbolik yang tertanam dalam logika globalisasi budaya itu sendiri.

Untuk memahami fenomena ini, konsep Hegemoni Budaya dalam perspektif NeoGramscian menjadi relevan. Hegemoni tidak hanya bekerja melalui dominasi material, tetapi juga melalui persetujuan ideologis mengenai apa yang dianggap bernilai. Fokus industri K-pop pada Grammy, Billboard, lagu berbahasa Inggris dan kolaborasi dengan musisi Barat menunjukkan bahwa Barat masih dipersepsikan sebagai penentu standar tertinggi kesuksesan global. Dengan demikian, globalisasi budaya tidak serta merta meruntuhkan struktur kekuasaan lama, melainkan sering kali memproduksinya dalam bentuk yang lebih halus.

Dorongan untuk memperoleh pengakuan Barat juga berakar dalam sejarah Korea selatan pascar perang Korea. Trauma perang serta ketergantungan militer dan ekonomi terhadap Amerika Serikat membentuk pandangan nasional yang menjadikan Barat sebagai tolok ukur modernitas, stabilitas dan kemajuan. Dalam konteks ini, pencairan validasi Barat bukan sekedar strategi pasar, melainkan kebutuhan psikologis kolektif untuk menegaskan status sebagai negara maju. Namun, proses ini secara tidak langsung membentuk hierarki sosial terhadap sesama Asia, di mana Asia Tenggara diposisikan lebih rendah.

Hierarki budaya tersebut selaras dengan persoalan rasisme intra Asia yang masih mengemuka dalam masyarakat Korea Selatan. Persepsi superioritas Barat berkontribusi pada terbentuknya pandangan bahwa sesama orang Asia, khusunya dari Asia Tenggara, berada pada posisi inferior dalam tatanan sosial dan ekonomi. Fenomena ini mencerminkan internalized orientalism, yaitu warisan ideologi kolonial yang terus memengaruhi cara suatu bangsa memandang dirinya dan pihak lain. Insiden rasisme terhadap Asia Tenggara, seperti yang mencuat dalam kasus forum daring Indosarang pada tahun 2024, menunjukkan bahwa pola pikir hierarkis ini tidak hanya hidup dalam strategi industri, tetapi juga dalam ranah sosial
sehari-hari. Ironisnya, budaya yang berkembang berkat Asia justru diiringi oleh sikap merendahkan terhadap pendukung besarnya.

Pada akhirnya, kesuksesan Hallyu mengungkap ambiguitas mendasar dalam globalisasi budaya. K-pop telah membuktikan kemampuannya untuk menantang dominasi Barat, tetapi belum sepenuhnya melepaskan diri dari hierarki pengakuan yang sama. Selama validasi Barat masih dianggap sebagai standar tertinggi dan ketimpangan intra-Asia terus direproduksi, kekuatan budaya Korea akan selalu dibayangi oleh ironi pengakuan. Tantangan Korea Selatan kini bukan lagi sekadar menembus Barat, melainkan membanguun keberanian untuk mengakui dan menghargai kesetaraan di antara sesama Asia. Pertanyaanya kemudian bukan apakah Asia mampu menentukan nilainya sendiri, melainkan apakah Korea Selatan bersedia melepaskan cermin lama yang selama ini digunakan untuk menilai dirinya.

REFERENSI

Alfathi, B. R. (2025, 20 Juni). Indonesia jadi konsumen terbesar K-Pop di dunia, sentuh 18%
pangsa pasar global. GoodStats. https://data.goodstats.id/statistic/indonesia-jadi-konsumen-terbesar-k-pop-di-dunia-sentuh-18-pangsa-pasar-global-rneOI

Cader, I. T., & Sundrijo, D. A. (2023). Critical analysis of Neo-Gramscian hegemony.
Eduvest – Journal of Universal Studies, 3(8), 1435–https://doi.org/10.59188/eduvest.v3i8.894

CNN Indonesia. (2024, 12 Juni). Apa itu Forum Warga Korsel Indosarang yang ramai dikritik
netizen RI?https://www.cnnindonesia.com/internasional/20240612191840-113-1109158/apa-itu-foru
m-warga-korsel-indosarang-yang-ramai-dikritik-netizen-ri

Reza, T. (2022). Exports driven by Hallyu increasing South Korea’s economic growth – cultural diplomacy approach. Jurnal Hubungan Internasional, 15(1), 20–36. https://doi.org/10.20473/jhi.v15i1.33230

Said, E. W. (1978). Orientalism. Pantheon Books. PDF copy available via Monoskop: https://monoskop.org/images/4/4e/Said_Edward_Orientalism_1979.pdf

Sunyogita, S. (2024). Harnessing cultural soft power: A study of South Korea’s global influence through the Korean Wave. Asian Journal of Language, Literature and Culture Studies, 7(2), 261–268. https://journalajl2c.com/index.php/AJL2C/article/view/183

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *