Oleh Muh. Nafsarrakhman Rivananda
Jika Timur Tengah merupakan panggung strategi global, maka Iran bukanlah pion kecil yang dapat dengan mudah digeser oleh kekuatan besar. Iran merupakan salah satu aktor penting dalam dinamika politik kawasan, yang setiap langkah strategisnya diperhatikan secara cermat oleh negara-negara besar, seperti Amerika Serikat dan Israel. Dalam konteks hubungan internasional, interaksi antara ketiga aktor ini menunjukkan bagaimana kepentingan keamanan, ideologi, serta ekonomi saling berinteraksi dan membentuk dinamika konflik yang kompleks.
Akar dari ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat dapat ditelusuri sejak Revolusi Islam Iran 1979, yang mengubah secara drastis hubungan Iran dengan negara-negara Barat (BBC, 2019). Revolusi tersebut menandai berakhirnya hubungan dekat Iran dengan Amerika Serikat serta membentuk identitas politik baru yang lebih kritis terhadap pengaruh Barat. Sejak saat itu, hubungan kedua negara tersebut diwarnai oleh ketidakpercayaan, sanksi ekonomi, serta berbagai ketegangan geopolitik yang terus berlanjut hingga saat ini.
Ketegangan tersebut kembali meningkat ketika pemerintahan Donald Trump pada tahun 2018 yang memutuskan untuk menarik Amerika Serikat keluar dari kesepakatan nuklir Iran, yaitu Joint Comprehensive Plan of Action (BBC, 2018). Keputusan tersebut diikuti dengan penerapan kembali berbagai sanksi ekonomi yang menargetkan sektor energi dan perdagangan Iran. Dari sudut pandang Amerika Serikat, kebijakan tersebut dianggap sebagai langkah untuk menekan ambisi nuklir Iran dan membatasi pengaruhnya di Kawasan Timur Tengah. Namun, langkah tersebut dipandang sebagai pelanggaran terhadap komitmen diplomasi internasional yang sebelumnya telah disepakati bersama bagi Iran.
Pada awal tahun 2026, ketegangan antara kedua negara meningkat menjadi konfrontasi militer terbuka, terkhusus ketika Amerika Serikat bersama sekutunya melancarkan serangan terhadap beberapa target strategis di Iran. Kemudian, Iran merespons dengan meluncurkan serangan balasan menggunakan rudal dan drone yang menargetkan wilayah Israel serta beberapa pangkalan militer Amerika Serikat di Kawasan Teluk. Serangan tersebut diumumkan sebagai bagian dari operasi yang dilaksanakan oleh Islamic Revolutionary Guard Corps, yang merupakan salah satu institusi militer paling berpengaruh di Iran.
Perkembangan penting lainnya dalam konflik ini adalah kematian pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang dilaporkan tewas dalam serangan militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel (The Guardian, 2026). Serangan tersebut oleh sebagian analis dipandang sebagai upaya decapitation strategy, yaitu strategi militer yang bertujuan melemahkan rezim dengan menyingkirkan pemimpin utamanya. Beberapa pihak di Amerika Serikat berasumsi bahwa kematian Khamenei akan memicu ketidakstabilan domestik dan membuka peluang bagi rakyat Iran untuk menggulingkan rezim yang berkuasa. Namun, kenyataannya tidak sepenuhnya berjalan sesuai dengan asumsi tersebut. Iran justru muncul mobilisasi massa dan periode berkabung nasional, di mana banyak masyarakat memandang Khamenei sebagai seorang martir dan simbol perlawanan terhadap Amerika Serikat dan Israel.
Fenomena ini dapat dijelaskan melalui perspektif teori hubungan internasional. Dari sudut pandang Konstruktivisme, identitas kolektif dan narasi ideologis memiliki peran penting dalam membentuk perilaku politik masyarakat. Dalam konteks Iran, kematian seorang pemimpin akibat serangan eksternal dapat memperkuat sentimen nasionalisme serta solidaritas domestik. Alih-alih melemahkan rezim, peristiwa tersebut justru berpotensi meningkatkan legitimasi pemerintah di mata sebagian masyarakat. Sementara itu, perspektif realisme melihat tindakan Amerika Serikat sebagai upaya mempertahankan kepentingan strategis serta keseimbangan kekuatan di kawasan Timur Tengah. Namun, Realisme juga menunjukkan bahwa tindakan militer terhadap pemimpin negara lain sering kali menghasilkan konsekuensi yang tidak terduga, termasuk meningkatnya eskalasi konflik dan konsolidasi kekuatan domestik negara yang diserang.
Dampak dari eskalasi konflik tersebut tidak hanya dirasakan dalam bidang keamanan, tetapi juga memengaruhi stabilitas ekonomi global, terutama yang berkaitan dengan jalur perdagangan energi. Salah satu titik strategis yang terdampak adalah Strait of Hormuz, jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dan menjadi salah satu rute utama distribusi minyak dunia. Diperkirakan sekitar 20 sampai 30 persen perdagangan minyak global melewati Selat Hormuz setiap harinya, yang menjadikannya sebagai salah satu jalur energi paling vital di dunia (U.S. Energy Information Administration, 2023).
Dalam situasi eskalasi konflik tahun 2026, Iran tidak secara resmi menutup Selat Hormuz, tetapi meningkatkan pengawasan militer dan patroli di wilayah tersebut. Langkah ini menciptakan ketidakpastian bagi pelayaran internasional serta meningkatkan risiko keamanan bagi kapal-kapal tanker minyak yang melintas. Akibatnya, sejumlah perusahaan pelayaran memilih menunda perjalanan atau mengubah rute mereka. Ketegangan tersebut juga menyebabkan kenaikan harga minyak global serta meningkatkan biaya asuransi maritim bagi kapal-kapal yang beroperasi di kawasan Teluk.
Dalam dinamika konflik ini, Israel juga memainkan peran penting sebagai sekutu utama Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Israel secara konsisten memandang program nuklir Iran sebagai ancaman strategis terhadap keamanan nasionalnya. Oleh karena itu, Israel sering mendorong Amerika Serikat untuk mengambil kebijakan yang lebih tegas terhadap Iran, baik melalui tekanan diplomatik maupun kerja sama keamanan. Kedekatan hubungan antara Amerika Serikat dan Israel menjadikan konflik ini tidak hanya bersifat bilateral antara Washington dan Teheran, tetapi juga melibatkan kepentingan keamanan regional yang lebih luas.
Jika dianalisis melalui perspektif teori hubungan internasional, dinamika ini dapat dipahami melalui dua pendekatan utama, yaitu Realisme dan Liberalisme. Perspektif Realisme melihat bahwa negara bertindak berdasarkan kepentingan nasional dan keamanan dalam sistem internasional yang anarkis. Dalam kerangka ini, tindakan Amerika Serikat dan Iran dapat dipahami sebagai upaya mempertahankan kekuatan dan pengaruh masing-masing di kawasan Timur Tengah. Sementara itu, Perspektif Liberalisme menekankan pentingnya kerja sama internasional dan institusi global dalam mengurangi konflik. Dari sudut pandang ini, keberadaan kesepakatan internasional, seperti Joint Comprehensive Plan of Action, seharusnya dapat menjadi mekanisme diplomasi untuk mengurangi ketegangan antara kedua negara.
Namun demikian, kebijakan luar negeri yang diambil oleh Donald Trump terhadap Iran juga memunculkan berbagai kritik. Penarikan Amerika Serikat dari JCPOA dinilai oleh sebagian pengamat sebagai langkah yang melemahkan upaya diplomasi multilateral yang sebelumnya telah dibangun oleh komunitas internasional (BBC, 2018). Pendekatan yang lebih konfrontatif dianggap berpotensi memperburuk ketegangan dan meningkatkan risiko konflik terbuka di kawasan. Dari Perspektif Liberalisme, kebijakan tersebut menunjukkan bagaimana keputusan sepihak suatu negara dapat merusak mekanisme kerja sama internasional yang seharusnya menjadi sarana penyelesaian konflik secara damai.
Konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel menunjukkan bahwa dinamika politik global tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer, tetapi juga oleh keputusan politik para pemimpin negara. Kebijakan luar negeri yang diambil oleh Amerika Serikat, khususnya sejak penarikan diri dari kesepakatan nuklir Iran pada tahun 2018 (Al Jazeera, 2018), telah memengaruhi stabilitas kawasan Timur Tengah serta hubungan diplomatik internasional. Eskalasi konflik yang terjadi juga memperlihatkan bagaimana ketegangan geopolitik dapat berdampak luas terhadap sistem global (Forbes, 2025), termasuk keamanan energi dan stabilitas ekonomi dunia. Ketegangan di Selat Hormuz menjadi contoh nyata bahwa konflik regional dapat memengaruhi jalur perdagangan strategis dan berdampak pada berbagai negara yang bergantung pada distribusi energi internasional.
REFERENSI
Al Jazeera. 2018. Trump withdraws US from Iran nuclear deal. https://www.aljazeera.com/news/2018/5/8/donald-trump-declares-us-withdrawal-from-irannuclear-deal
BBC News. 2018. Iran nuclear deal: Trump pulls US out of 2015 agreement. https://www.bbc.com/news/world-us-canada-44045957 BBC News. 2019. Iran profile: Timeline of key events. https://www.bbc.com/news/worldmiddle-east-14542438
Forbes. 2025. Oil prices could surge if Strait of Hormuz shipping is disrupted. https://www.forbes.com
The Guardian. 2026. Middle East tensions rise amid escalating conflict between Iran, Israel, and the United States. https://www.theguardian.com/world
U.S. Energy Information Administration. 2023. The Strait of Hormuz is the world’s most important oil transit chokepoint. https://www.eia.gov/international/analysis/special-Strait_of_Hormuz