Oleh Eghi Algipari
Pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai pelemahan rupiah yang menyebut bahwa “rakyat desa tidak pakai dolar” menjadi perbincangan luas di tengah tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Pernyataan tersebut muncul ketika rupiah menembus kisaran Rp17.500 per dolar AS dan alih-alih menyajikan peta jalan atau roadmap penanganan krisis yang terukur, pemerintah justru memilih retorika populis yang semu. Sikap defensif ini berisiko menurukan kredibilitas kebijakan ekonomi di mata publik dan investor, karena mengaburkan urgensi dari tekanan fiskal yang sebenarnya terjadi.
Secara politik, klaim tersebut tidak lebih dari sekedar retorika populis yang semu dan menyepelekan krisis yang ada. Alih-alih menyajikan solusi konkret, pemerintah justru memilih menggunakan narasi penenang yang manipulatif untuk mengaburkan fakta bahwa kebijakan moneter domestik sedang berada dalam posisi rentan terhadap dinamika global. Namun dalam perspektif ekonomi politik internasional dan Hubungan Internasional (HI), narasi tersebut justru memperlihatkan persoalan yang lebih kompleks: keterhubungan antara masyarakat lokal dengan struktur ekonomi global tidak lagi bisa dipisahkan secara sederhana. Memang benar bahwa sebagian masyarakat desa tidak melakukan transaksi langsung menggunakan dolar AS. Akan tetapi, pelemahan rupiah tetap berdampak terhadap kehidupan mereka melalui mekanisme ekonomi tidak langsung. Indonesia masih memiliki ketergantungan terhadap impor energi, bahan baku industri, pupuk, alat kesehatan, hingga pangan tertentu yang nilainya sangat dipengaruhi oleh kurs dollar. Ketika rupiah melemah, biaya impor meningkat dan pada akhirnya memicu kenaikan harga barang di tingkat domestik. Dampak ini kemudian menjalar hingga ke desa-desa dalam bentuk inflasi harga kebutuhan pokok, biaya distribusi, maupun kenaikan harga produksi pertanian.
Dalam konteks ini, pernyataan bahwa rakyat desa “tidak memakai dolar” sebenarnya terlalu menyepelekan hubungan antara ekonomi lokal dan sistem ekonomi global. Globalisasi ekonomi telah menciptakan interdependensi yang membuat gejolak finansial internasional tetap memiliki pengaruh terhadap masyarakat akar rumput, meskipun mereka tidak bersentuhan langsung dengan transaksi valuta asing. Dari sudut pandang HI, fenomena ini dapat dianalisis melalui pendekatan ekonomi politik internasional. Pendekatan ini menjelaskan bahwa nilai tukar bukan hanya persoalan moneter domestik, tetapi juga dipengaruhi oleh dinamika geopolitik, arus modal internasional, kebijakan suku bunga negara maju, dan tingkat kepercayaan investor global terhadap suatu negara.
Pelemahan rupiah belakangan ini tidak dapat dilepaskan dari situasi ekonomi global yang penuh ketidakpastian, termasuk konflik geopolitik, ketegangan perdagangan internasional, dan penguatan dolar AS akibat kebijakan moneter Amerika Serikat. Penelitian mengenai dinamika kurs USD/IDR juga menunjukkan bahwa transisi politik global dan ketidakpastian geopolitik memiliki pengaruh signifikan terhadap depresiasi rupiah. Dalam perspektif realisme ekonomi, negara memang berusaha menunjukkan ketahanan nasional di tengah tekanan global. Pernyataan Presiden dapat dibaca sebagai bentuk political reassurance untuk menjaga stabilitas domestik dan mencegah panic market. Negara membutuhkan legitimasi politik agar masyarakat tetap percaya terhadap kemampuan pemerintah mengelola krisis. Hal ini penting karena kepanikan publik dapat memperburuk tekanan ekonomi melalui capital flight maupun penurunan konsumsi domestik. Namun, jika dilihat dari perspektif liberalisme dalam HI, stabilitas ekonomi nasional justru sangat bergantung pada integrasi dengan pasar global. Indonesia tetap membutuhkan investasi asing, perdagangan internasional, dan stabilitas keuangan global untuk menjaga pertumbuhan ekonomi. Karena itu, narasi yang terlalu meremehkan dampak pelemahan rupiah membuktikan bahwa pemerintah mengabaikan persoalan struktural ekonomi nasional.
Selain itu, terdapat dimensi konstruktivisme yang menarik untuk dibahas. Dalam pendekatan konstruktivis, bahasa politik memiliki kekuatan membentuk persepsi sosial. Pernyataan “rakyat desa tidak pakai dolar” oleh seorang Presiden bukan sekadar komentar ekonomi, tetapi juga konstruksi identitas nasional yang mencoba membedakan rakyat kecil Indonesia dari sistem kapitalisme global. Narasi tersebut membangun imaji bahwa masyarakat Indonesia memiliki ketahanan tersendiri dibanding negara lain yang sangat bergantung pada dolar. Akan tetapi, konstruksi semacam ini dapat menjadi problematik apabila digunakan untuk menutupi persoalan fundamental seperti lemahnya daya beli, ketergantungan impor, dan volatilitas pasar keuangan. Di sisi lain, pemerintah memang memiliki argumen bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih relatif stabil dibanding beberapa negara berkembang lain. Presiden juga menyinggung bahwa ketahanan pangan dan energi Indonesia masih aman di tengah situasi global yang penuh tekanan. Namun stabilitas tersebut tidak berarti Indonesia sepenuhnya kebal terhadap guncangan eksternal.
Dalam praktiknya, masyarakat desa tetap menjadi kelompok yang rentan terhadap dampak pelemahan rupiah dan tetap menjandi pihak pertama yang mmerasakan dampak. Petani misalnya, sangat dipengaruhi oleh harga pupuk dan bahan produksi yang sebagian komponennya bergantung pada pasar global. Nelayan juga terdampak melalui kenaikan harga bahan bakar dan peralatan. Dengan kata lain, dolar mungkin tidak hadir dalam bentuk uang fisik di desa, tetapi pengaruhnya tetap terasa melalui rantai ekonomi global. Karena itu, pemerintah seharusnya tidak hanya membangun narasi optimisme, tetapi juga memperkuat strategi ekonomi jangka panjang. Diversifikasi industri domestik, penguatan ketahanan pangan, hilirisasi sumber daya alam, dan pengurangan ketergantungan impor menjadi langkah penting untuk memperkuat posisi rupiah. Selain itu, diplomasi ekonomi Indonesia juga harus diarahkan untuk memperluas kerja sama perdagangan dan mengurangi kerentanan terhadap dominasi dolar dalam transaksi internasional.
Pada akhirnya, pernyataan Presiden mencerminkan dilema klasik negara berkembang dalam era globalisasi: antara menjaga optimisme nasionalisme ekonomi dan menghadapi realitas interdependensi global. Dalam dunia yang semakin terkoneksi, pelemahan rupiah bukan hanya persoalan elite ekonomi atau pelaku pasar, melainkan persoalan yang dampaknya dapat menjangkau hingga masyarakat desa sekalipun.
REFERENSI
CNBC Indonesia. (2026, May 16). Prabowo tanggapi rupiah melemah: Rakyat desa tak pakai dolar. CNBC Indonesia.
CNN Indonesia. (2026, May 16). Prabowo soal rupiah anjlok: Rakyat di desa enggak pakai dolar kok. CNN Indonesia.
detikcom. (2026, May 16). Prabowo heran ada yang panik rupiah melemah: Indonesia masih oke. Detik News.
Khaliq, A., Karimi, S., Taifur, W. D., & Ridwan, E. (2025). The quest for explosive bubbles in the Indonesian Rupiah/US exchange rate: Does the uncertainty trinity matter? arXiv. https://arxiv.org/abs/2505.02869](https://arxiv.org/abs/2505.02869
Herho, S. H. S., Kaban, S. N., & Nugraha, C. (2025). 100-Day Analysis of USD/IDR Exchange Rate Dynamics Around the 2025 U.S. Presidential Inauguration. arXiv. https://arxiv.org/abs/2506.18738](https://arxiv.org/abs/2506.18738